YOGYAKARTA – Dinamika tersembunyi di perairan Selat Bangka akhirnya terkuak.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan model simulasi hidrodinamika tiga dimensi yang membongkar fenomena tidal pumping—mekanisme “pompa alami” akibat pasang surut yang memicu arus vertikal kuat di selat strategis tersebut.
Riset yang dipublikasikan dalam Global Journal of Environmental Science and Management ini dipimpin Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo S. Pranowo.
Tim menggunakan pendekatan pemodelan numerik metode unstructured triangular finite element/volume, berbasis data pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG) serta data batimetri Pushidrosal TNI AL.
“Model dikembangkan berbasis data pasang surut dari Badan Informasi Geospasial (BIG) serta data batimetri dari Pushidrosal TNI AL. Pendekatan pemodelan tiga dimensi menjadi kunci dalam memahami kompleksitas dinamika arus vertikal di Selat Bangka,” ungkap Widodo di Yogyakarta pada Selasa, (24/2/2026).
Perbedaan Pasang 3,8 Meter, Selat Bangka Jadi ‘Mesin Pengaduk’ Laut
Model BRIN mengungkap fakta mencolok: terdapat perbedaan rentang pasang surut hampir dua meter antara utara dan selatan Selat Bangka. Di bagian utara, rentang pasang mencapai sekitar 3,8 meter, sementara selatan sekitar 2 meter.
Perbedaan ini menciptakan gradien tekanan yang memicu fenomena tidal pumping—proses pertukaran massa air secara vertikal akibat dinamika pasang surut.
“Saat fase pasang menuju puncak (high tide), terjadi arus naik (upwelling) dengan kecepatan 0,0005–0,0016 m/s, dominan di bagian utara. Sebaliknya, ketika surut menuju titik terendah (low tide), terbentuk arus turun (downwelling) dengan kecepatan 0,0002–0,0035 m/s,” urainya.
Variasi topografi dasar laut pada kedalaman 2–6 meter memperkuat kompleksitas arus ini.
Akurasi Hampir Sempurna: Korelasi 0,99
Keandalan model ini tidak main-main. Pada Stasiun Muntok, tercatat nilai Root Mean Square Error (RMSE) 0,17 dengan koefisien korelasi 0,98. Sementara di Stasiun Sadai, RMSE hanya 0,04 dengan korelasi 0,99.
Angka tersebut menunjukkan kesesuaian sangat kuat antara simulasi dan data observasi lapangan, sekaligus menegaskan reliabilitas model sebagai fondasi analisis ilmiah dan kebijakan maritim berbasis data.
Sensitif terhadap Supermoon dan Pengaruh Tiga Laut
Analisis harmonik pasang surut menunjukkan komponen K₁ (diurnal) sebagai konstituen paling dominan di Selat Bangka. Bahkan amplitudo K₁ meningkat saat fenomena supermoon Juli 2022, menandakan sensitivitas dinamika pasut terhadap konfigurasi astronomis.
Secara geografis, Selat Bangka merupakan simpul pertemuan pengaruh pasang surut dari Selat Malaka, Laut China Selatan, dan Laut Jawa. Posisi ini menjadikannya wilayah dengan karakter hidrodinamika yang kompleks sekaligus strategis.
Tak heran, sejak era kejayaan maritim Sriwijaya, kawasan ini telah menjadi jalur transit penting pelayaran Nusantara.
Implikasi Strategis: Dari Nutrien hingga Mitigasi Pencemaran
Fenomena tidal pumping berpotensi meningkatkan pencampuran nutrien dari dasar ke permukaan, yang mendukung produktivitas primer dan ekosistem perikanan. Namun di sisi lain, mekanisme yang sama juga dapat memicu redistribusi sedimen dan polutan.
“Artinya, tanpa tata kelola berbasis sains, dinamika alami ini bisa menjadi pedang bermata dua,” imbuhnya.
Model hidrodinamika presisi tinggi yang dikembangkan BRIN membuka peluang besar untuk:
– Penguatan pengelolaan sumber daya pesisir
– Mitigasi pencemaran laut
– Perencanaan pelabuhan dan infrastruktur maritim berkelanjutan
– Adaptasi perubahan iklim
– Pengembangan energi arus laut
Melalui penguatan kapasitas pemodelan numerik oseanografi, BRIN menegaskan perannya sebagai penyedia dasar ilmiah kebijakan maritim nasional yang adaptif dan berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan pesisir dan perubahan iklim, riset ini menjadi alarm sekaligus peta jalan: masa depan Selat Bangka tidak bisa lagi dikelola dengan asumsi, melainkan harus ditopang oleh sains presisi tinggi. (TR Network)


Komentar