ROMA — Saat dunia menghadapi krisis iklim, kerusakan biodiversitas, dan degradasi lahan yang saling terkait, solusi ternyata tidak selalu datang dari teknologi canggih.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) justru menyoroti sistem penggembalaan tradisional dan bentang alam padang rumput sebagai bagian penting dari solusi global.
Melalui Food and Agriculture Organization (FAO), PBB menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Padang Penggembalaan dan Komunitas Pastoral (International Year of Rangelands and Pastoralists).
Penetapan ini bertujuan menyoroti peran vital padang penggembalaan dan para penggembala dalam menjaga ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan stabilitas iklim dunia.
Direktur Divisi Produksi dan Kesehatan Hewan FAO, Thanawat Tiensin, menjelaskan bahwa rangelands—atau padang penggembalaan alami—bukanlah lahan tidak produktif seperti yang selama ini dianggap banyak pihak.
“Padang penggembalaan adalah ekosistem yang sangat luas dan beragam, mencakup savana, padang rumput, gurun, stepa, hingga wilayah pegunungan. Ekosistem ini telah menopang kehidupan manusia dan ternak selama ribuan tahun,” ujarnya dikutip Sabtu (14/3/2026).
Separuh Daratan Bumi adalah Padang Penggembalaan
FAO memperkirakan sekitar setengah dari total daratan dunia merupakan rangelands. Wilayah ini tersebar mulai dari savana Afrika, stepa Asia Tengah, padang rumput Amerika Utara, hingga kawasan kering di berbagai benua.
Sekitar 2 miliar manusia bergantung pada wilayah ini, sementara 10 persen produksi daging global berasal dari sistem pastoral yang memanfaatkan padang penggembalaan alami.
Selain menyediakan pangan, kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi berbagai spesies liar seperti yak, antelop, rusa, kerbau liar, hingga badak.
Bahkan penelitian menunjukkan padang rumput permanen di beberapa wilayah Eropa dapat menampung hingga 100 spesies tanaman berbeda dalam satu kawasan.
Penggembala Tradisional Penjaga Ekosistem
Komunitas pastoral—masyarakat yang hidup dari menggembalakan ternak—mengembangkan sistem mobilitas unik selama berabad-abad. Mereka berpindah mengikuti ketersediaan pakan dan air, sebuah praktik yang dikenal sebagai transhumance.
Pergerakan ternak ini justru membantu menjaga ekosistem. Hewan ternak menyebarkan biji tanaman melalui kotorannya dan membantu regenerasi vegetasi alami, sekaligus mencegah dominasi satu jenis tanaman tertentu.
Selain itu, sistem pastoral juga melestarikan banyak ras ternak lokal yang adaptif terhadap lingkungan ekstrem. Namun FAO memperingatkan bahwa sekitar 40 persen ras ternak lokal kini terancam punah.
Setengah Rangelands Dunia Sudah Terdegradasi
Meski memiliki peran vital, padang penggembalaan dunia kini menghadapi ancaman serius.
Menurut United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD), sekitar 50 persen rangelands global telah mengalami degradasi.
Kerusakan ini terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari konversi lahan menjadi pertanian, urbanisasi, pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga proyek energi terbarukan yang mengubah fungsi ekosistem alami.
Perubahan iklim memperparah situasi. Kekeringan ekstrem, banjir, dan fenomena cuaca ekstrem seperti dzud di Mongolia telah menyebabkan kematian massal ternak dan mengancam mata pencaharian jutaan penggembala.
Penyerap Karbon Raksasa yang Sering Diremehkan
Padang penggembalaan juga berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim. Akar tanaman padang rumput yang dalam membantu menyimpan karbon di dalam tanah.
FAO memperkirakan ekosistem ini dapat menyerap hingga 30 persen karbon dunia, menjadikannya salah satu penyimpan karbon terbesar di planet ini.
Menariknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa jika ternak tidak lagi digembalakan di rangelands, kawasan tersebut kemungkinan akan diisi oleh populasi satwa liar yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah serupa.
Artinya, sistem pastoral tidak selalu menjadi penyebab utama emisi seperti yang sering diasumsikan.
Kunci Masa Depan Pangan Dunia
FAO menegaskan bahwa masa depan sistem pastoral sangat bergantung pada perlindungan hak atas tanah, tata kelola yang adil, serta keterlibatan perempuan dan generasi muda dalam pengelolaan lahan.
Restorasi rangelands juga dinilai dapat meningkatkan produksi ternak, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
“Dalam dunia yang mencari solusi atas krisis iklim, biodiversitas, dan degradasi lahan, padang penggembalaan dan komunitas pastoral adalah bagian dari jawabannya,” kata Tiensin.
Menurut FAO, sistem pastoral adalah model produksi pangan berbasis alam yang mampu memberi makan dunia tanpa menghancurkan ekosistem—selama didukung kebijakan dan investasi yang tepat. (TR Network)
