Site icon Tropis.id

Siklon Tropis Makin Ganas, Dunia Dipaksa Berpacu Selamatkan Nyawa

Dua siklon tropis secara bersamaan pada bulan September, Topan Ragasa (kiri), dan Topan Neoguri (kanan atas). File: NASA

JEJU — Dunia menghadapi ancaman badai tropis yang semakin ganas.

Namun di tengah risiko yang meningkat, kerja sama regional, teknologi peringatan dini, dan inovasi kecerdasan buatan (AI) mulai menjadi senjata utama untuk menyelamatkan jutaan nyawa di kawasan paling rawan badai di planet ini.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menegaskan bahwa sistem early warning yang semakin canggih dan koordinasi lintas negara kini terbukti mampu menekan korban jiwa akibat topan di kawasan Pasifik Barat Laut, wilayah dengan aktivitas siklon tropis paling intens di dunia.

Meski demikian, ancaman terus meningkat. Intensitas badai yang menguat secara cepat, curah hujan ekstrem, serta banjir pesisir kini semakin sering menghantam kota-kota besar di Asia.

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo memperingatkan bahwa siklon tropis merupakan salah satu bencana alam paling mematikan di dunia.

Indonesia Punya Harta Karun Karbon Biru, Nilainya Rp33 Triliun per Tahun

“Siklon tropis dapat menghancurkan hasil kerja generasi manusia hanya dalam hitungan menit,” katanya dalam pertemuan tahunan ESCAP/WMO Typhoon Committee di Jeju, Korea Selatan, pada 13 Maret 2026.

Menurutnya, badai tidak mengenal batas negara dan dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi dan masyarakat. Karena itu, kolaborasi regional dan pertukaran data menjadi kunci menghadapi ancaman ini.

Musim Topan 2025: Aktif dan Mematikan

Musim topan 2025 di Pasifik Barat Laut dan Laut China Selatan tercatat sangat aktif.

Sepanjang tahun tersebut:

– 27 siklon tropis bernama terbentuk
– Lebih dari 700 orang tewas
– Kerugian ekonomi hampir US$10 miliar
– Jutaan warga terpaksa dievakuasi

Saat Dunia Cari Solusi Iklim: Penggembala Tradisional Jawabannya

Salah satu badai paling kuat adalah Typhoon Ragasa, yang mencapai kecepatan angin sekitar 205 km/jam.

Badai ini menghantam wilayah China Tenggara, Filipina, hingga Thailand, memicu banjir pesisir besar dan gangguan transportasi luas. Di Hong Kong, otoritas bahkan mengaktifkan Sinyal Badai No. 10, tingkat peringatan tertinggi.

Lebih dari 700 penerbangan dibatalkan, tetapi berkat sistem peringatan dini yang efektif, badai tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, meskipun sekitar 100 orang terluka.

AI Jadi Senjata Baru Melawan Topan

Selain koordinasi regional, inovasi teknologi kini memainkan peran penting dalam menghadapi bencana.

Banyak negara anggota Komite Topan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kemampuan: prediksi jalur topan, estimasi intensitas badai, analisis data radar dan satelit, prediksi dampak bencana, hingga manajemen respons darurat.

Pulau Jawa di Ambang Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Masuk Zona Bahaya

Teknologi ini bahkan telah didukung oleh portal pertukaran data AI regional, yang memungkinkan para ahli meteorologi dari berbagai negara berbagi data secara real-time.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari program global Early Warnings for All, yang bertujuan memastikan seluruh penduduk dunia terlindungi oleh sistem peringatan dini yang menyelamatkan nyawa.

Perubahan Nama Topan: Delapan Pensiun

Dalam sidang tahunan tersebut, Komite Topan juga memutuskan memensiunkan delapan nama badai karena dampak kerusakan besar yang ditimbulkannya, yaitu: Wipha, Co-may, Matmo, Mitag, Ragasa, Bualoi, Kalmaegi dan Fung-wong.

Nama-nama ini tidak akan digunakan lagi dalam daftar siklon tropis di masa depan.

Selain itu, Dr. Mi-Seon Lee dari Korea Meteorological Administration terpilih sebagai Ketua Komite Topan, sementara Koh Li-na dari Singapore Meteorological Service menjadi Wakil Ketua.

Alarm Iklim: Badai Akan Semakin Ekstrem

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi memperparah karakter badai tropis: intensitas meningkat lebih cepat, hujan lebih ekstrem, dan banjir pesisir semakin luas.

Karena itu, WMO menekankan bahwa investasi pada sistem peringatan dini, teknologi prediksi, dan koordinasi regional harus dipercepat.

Tanpa itu, jutaan orang yang tinggal di kawasan pesisir Asia akan menghadapi ancaman yang semakin sulit dikendalikan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version