JAKARTA – Di tengah krisis iklim global dan laju deforestasi yang kian brutal, hanya segelintir negara yang mampu membuktikan satu hal penting: hutan bisa dilestarikan tanpa mengorbankan ekonomi.
Lima negara ini bukan cuma menanam ulang pohon, tapi membangun sistem—dari hukum, teknologi, hingga partisipasi warga—yang membuat hutan benar-benar berkelanjutan.
Pengelolaan hutan berkelanjutan hari ini tak lagi sekadar jargon hijau. Ia menyangkut perlindungan ekosistem, penghormatan hak masyarakat adat, transparansi tata kelola, serta distribusi manfaat ekonomi yang adil. Negara-negara berikut menunjukkan bahwa menjaga paru-paru dunia bukan mimpi kosong.
Finlandia: Saat Hutan Menjadi Identitas Nasional
Hutan di Finlandia. Arsip
Finlandia memiliki tutupan hutan lebih dari 70 persen wilayah negara, terbesar di Eropa. Namun yang membuatnya menonjol bukan sekadar luas, melainkan cara mengelolanya.
Negara ini menerapkan sistem multi-fungsi yang melibatkan masyarakat lokal dan pemilik hutan kecil dalam setiap pengambilan keputusan.
Aturan tebang pilih diterapkan ketat: setiap pohon yang ditebang wajib diganti, bahkan sering kali lebih banyak.
Teknologi satelit dan kecerdasan buatan digunakan untuk memantau praktik ilegal, sementara sertifikasi internasional seperti FSC dan PEFC menjadi standar wajib. Hutan di Finlandia dijaga sebagai warisan nasional, bukan sekadar komoditas.
Kosta Rika: Dari Negara Gundul Menjadi Ikon Reforestasi Dunia
Hutan di Kosta Rika. Arsip
Kosta Rika pernah berada di titik nadir akibat deforestasi masif. Namun kebijakan visioner mengubah segalanya. Kini, lebih dari 57 persen wilayahnya kembali hijau.
Kunci keberhasilannya terletak pada skema Payment for Environmental Services, di mana negara memberi insentif langsung kepada pemilik lahan yang menjaga hutannya tetap utuh.
Sebanyak 25 persen wilayah Kosta Rika ditetapkan sebagai kawasan lindung. Ekowisata menjadi tulang punggung ekonomi, sementara pendidikan lingkungan ditanamkan sejak usia dini. Negara ini membuktikan bahwa melindungi hutan justru bisa menggerakkan ekonomi nasional.
Swedia: Ketika Teknologi dan Hukum Mengawal Hutan
Hutan di Swedia. Arsip
Swedia mengelola industri kehutanan besar tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati. Undang-undang kehutanan mewajibkan setiap area tebangan dipulihkan dan dikembalikan fungsinya.
Pemantauan dilakukan secara real-time menggunakan drone, sensor, dan satelit.
Menariknya, data kondisi hutan dibuka ke publik, menjadikan transparansi sebagai senjata utama. Kombinasi teknologi, hukum tegas, dan kesadaran sosial membuat Swedia konsisten menjaga hutannya tetap lestari di tengah pembangunan.
Bhutan: Hutan sebagai Pilar Spiritual dan Negara
Hutan di Bhutan. Arsip
Bhutan mengambil jalan berbeda. Perlindungan lingkungan bahkan dikunci dalam konstitusi negara, dengan kewajiban tutupan hutan minimal 60 persen secara permanen.
Saat ini, sekitar 70 persen wilayah Bhutan masih berupa hutan alami.
Hasilnya mencengangkan: Bhutan menjadi negara penyerap karbon bersih—menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan.
Konsep Gross National Happiness dan program Green School menjadikan keberlanjutan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kebijakan.
Kanada: Hutan Dijaga Negara, Ilmu, dan Masyarakat Adat
Hutan di Kanada. Arsip
Kanada mengelola salah satu tutupan hutan terbesar di dunia dengan pendekatan berbasis sains dan konsultasi publik. Praktik kehutanan komersial wajib memenuhi sertifikasi ketat seperti FSC dan CSA.
Peran masyarakat adat menjadi elemen kunci. Pengetahuan tradisional dipadukan dengan teknologi modern untuk melindungi spesies langka dan memantau karbon.
Kanada menunjukkan bahwa kolaborasi negara dan komunitas bisa menjaga hutan dalam jangka panjang.
Hutan Bukan Warisan Masa Lalu, Tapi Penentu Masa Depan
Lima negara ini membuktikan satu pesan tegas: keberlanjutan bukan slogan, melainkan pilihan politik dan tata kelola.
Di saat banyak negara masih bergulat antara eksploitasi dan pelestarian, mereka menunjukkan bahwa menjaga hutan berarti menjaga masa depan manusia itu sendiri. (TR Network)
