JAKARTA – Rawa yang selama ini kerap dipandang sebagai lahan marginal kini diproyeksikan menjadi motor baru swasembada pangan nasional.
Melalui pengembangan teknologi pertanian presisi di lahan rawa, Indonesia bersiap melakukan lompatan besar untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan produksi beras di tengah menyusutnya lahan sawah irigasi.
Komitmen itu ditegaskan dalam Webinar PRIMA #3 bertajuk “Peralatan Pertanian Presisi di Lahan Rawa untuk Mendukung Swasembada Pangan” yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pangan Adalah Soal Hidup dan Mati Bangsa
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan bahwa isu pangan bukan hanya agenda sektoral, melainkan persoalan fundamental bangsa.
“Pangan adalah soal hidup dan mati suatu bangsa. Jika kebutuhan pangan rakyat tidak terpenuhi, dampaknya bisa sangat besar. Karena itu diperlukan upaya besar, radikal, dan inovatif untuk menjamin keberlanjutannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa transformasi lahan rawa menjadi sentra produksi padi bukan lagi pilihan alternatif, melainkan strategi nasional jangka panjang.
Lahan Rawa Jadi Harapan Baru Swasembada Pangan
Kepala Pusat Riset Manufaktur Peralatan BRIN, Taufik Hidayat, menekankan bahwa swasembada pangan tidak boleh bersifat sementara. Keberhasilan harus berorientasi masa depan dengan dukungan teknologi presisi berbasis spesifik lokasi.
Menurutnya, optimalisasi potensi rawa menjadi langkah strategis karena ketersediaan lahan irigasi teknis di Pulau Jawa dan wilayah lain semakin terbatas.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Budi Raharjo, menegaskan bahwa rawa memiliki peluang besar sebagai lumbung pangan nasional hingga global.
“Tidak ada pilihan lain, lahan rawa merupakan peluang besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi padi. Pemerintah bahkan telah mendeklarasikan rawa sebagai lumbung pangan nasional hingga lumbung pangan dunia,” jelasnya.
Kunci Sukses: Tata Air, Mekanisasi, dan Teknologi Presisi
Pengembangan lahan rawa tidak berarti hanya sebatas membuka lahan baru. Ada tiga persoalan krusial yang harus diselesaikan: Perataan lahan, Sistem tanam adaptif hingga Pengelolaan dan pengeringan tata air.
Jika ketiga aspek tersebut ditangani dengan peralatan pertanian presisi, maka rawa dapat menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Ketua Pusat Data dan Informasi Rawa dan Pesisir (PUSDATARAWA) Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanudin, menegaskan bahwa tata air yang terstruktur adalah fondasi utama keberhasilan mekanisasi di rawa pasang surut.
Tanpa sistem pengendalian air yang baik, modernisasi pertanian berisiko menghadapi degradasi tanah dan produktivitas rendah.
“Pertanian modern dan mekanisasi harus dilakukan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada tata air dan bangunan air yang berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Mekanisasi Berbasis Kebutuhan Petani
Di tengah keterbatasan tenaga kerja pertanian, mekanisasi menjadi keniscayaan. Namun pengadaan alat dan mesin pertanian harus berbasis kebutuhan riil petani dan mudah dirawat agar tidak menjadi investasi mubazir.
Pendekatan partisipatif dinilai penting agar teknologi benar-benar adaptif dan berkelanjutan.
Pengelolaan rawa sendiri merupakan proses bertahap dan jangka panjang. Evaluasi berkelanjutan terhadap infrastruktur tata air akan mempercepat kematangan tanah, meningkatkan efektivitas mekanisasi, dan mendorong lonjakan produktivitas padi nasional.
Menuju Lumbung Pangan Dunia
Dengan dukungan riset dan inovasi berkelanjutan, teknologi pertanian presisi di lahan rawa diyakini mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen pangan strategis di tingkat nasional maupun global.
Rawa kini bukan lagi lahan terbuang. Jika dikelola dengan tata air yang tepat, mekanisasi modern, dan teknologi presisi spesifik lokasi, rawa berpotensi menjadi simbol revolusi pangan Indonesia—fondasi menuju swasembada yang permanen dan berdaya saing global. (TR Network)


Komentar