Riset
Beranda / Riset / Studi: Ikan Laut Lebih Rentan Pemanasan Bumi Dibanding Ikan Air Tawar

Studi: Ikan Laut Lebih Rentan Pemanasan Bumi Dibanding Ikan Air Tawar

Ikan Koi, spesies ikan air tawar. Hasil studi terbaru mengungkapkan ikan yang hidup di air tawar lebih tangguh menghadapi kenaikan suhu dibandingkan ikan laut. Foto Arsip

JAKARTA – Pemanasan global tidak hanya mengubah iklim daratan, tetapi juga mengancam ekosistem perairan dunia.

Namun sebuah studi terbaru mengungkap temuan mengejutkan: ikan yang hidup di air tawar ternyata lebih tangguh menghadapi kenaikan suhu dibandingkan ikan laut.

Kesimpulan tersebut diungkap oleh ahli ekologi Wilco Verberk dari Radboud University, Belanda, setelah menganalisis ratusan penelitian tentang respons ikan terhadap perubahan suhu.

Penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua spesies ikan merespons perubahan iklim dengan cara yang sama.

Analisis Lebih dari 500 Spesies Ikan

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Ecology Letters, Verberk mengumpulkan data dari lebih dari 300 penelitian yang mencakup lebih dari 500 spesies ikan dari berbagai habitat.

Topan Pembunuh “Melissa” Dihapus dari Sejarah, Kenapa?

Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan air tawar memiliki kemampuan adaptasi suhu yang lebih baik dibandingkan ikan yang hidup di laut.

Menurut Verberk, temuan tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan jika dilihat dari kondisi lingkungan alami ikan air tawar.

“Suhu air di sungai dan aliran air berubah jauh lebih drastis antar musim dibandingkan suhu laut. Dari sisi evolusi, masuk akal jika ikan air tawar lebih siap menghadapi perubahan suhu,” jelas Verberk, dikutip dari Phys.org, Jumat (6/3/2026).

Rahasia Ketahanan Ikan Air Tawar

Ketangguhan ikan air tawar ternyata tidak hanya karena mereka terbiasa hidup di lingkungan yang suhunya naik-turun.

Peneliti menduga ikan air tawar memiliki kemampuan fisiologis khusus, terutama dalam cara tubuh mereka mengelola oksigen.

Perubahan Iklim Percepat Krisis Pesisir Asia Tenggara

Di perairan tawar, kadar oksigen dan suhu air sering berubah drastis. Kondisi tersebut membuat banyak spesies ikan mengembangkan kemampuan bertahan dalam lingkungan dengan oksigen rendah.

“Kita tahu ikan yang terbiasa hidup dengan kadar oksigen minim biasanya lebih mampu bertahan di suhu yang lebih panas,” kata Verberk.

Ikan Laut Lebih Rentan

Sebaliknya, ikan laut hidup di lingkungan yang relatif lebih stabil. Karena itu, mereka kurang terbiasa menghadapi perubahan suhu ekstrem.

Akibatnya, pemanasan global berpotensi membuat banyak spesies ikan laut lebih rentan mengalami stres suhu, bahkan bisa memicu perpindahan habitat secara besar-besaran.

Perpindahan ini dapat mengubah distribusi ikan di laut dan memicu ketidakseimbangan ekosistem perikanan dunia.

Indonesia Tak Lagi Aman dari Siklon Tropis

Ancaman Serius bagi Ketahanan Pangan

Temuan ini menjadi perhatian besar karena ikan merupakan salah satu sumber protein utama bagi miliaran orang di dunia, termasuk di Indonesia.

Verberk menegaskan bahwa pemanasan global kemungkinan besar akan memaksa banyak spesies ikan berpindah habitat untuk mencari suhu yang lebih cocok bagi kelangsungan hidupnya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa hasil uji di laboratorium sangat mirip dengan kondisi suhu alami di habitat ikan. Artinya, pemanasan global dapat menyebabkan pergeseran besar distribusi ikan di alam,” ujarnya.

Jika tren ini terus berlanjut, perubahan tersebut bisa menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan global, terutama bagi negara yang bergantung pada sektor perikanan.

Alarm Baru Perubahan Iklim

Studi ini memperlihatkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap kehidupan laut jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara ikan air tawar mungkin memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi, ikan laut berpotensi menjadi korban utama pemanasan samudra.

Para ilmuwan menilai temuan ini penting untuk memperbaiki model prediksi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem perairan, sekaligus membantu pemerintah merancang strategi perlindungan sumber daya ikan di masa depan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *