JAKARTA — Pemerintah Indonesia menempatkan Sulawesi sebagai episentrum baru energi hijau nasional.
Melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP), proyek Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) didorong sebagai infrastruktur kunci untuk menopang pertumbuhan industri strategis sekaligus memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Seremoni Pencapaian Proyek JETP 2026 di Jakarta, Kamis (5/2), yang menandai capaian dua program unggulan hasil kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman, yakni Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, selaku Ketua Pengarah Satuan Tugas Transisi Energi dan Ekonomi Hijau (TEH), menyatakan bahwa kedua program tersebut mencerminkan kemitraan strategis yang solid serta meningkatnya kepercayaan internasional terhadap agenda transisi energi Indonesia.
“GECS dan GBDF merupakan wujud nyata kolaborasi Indonesia–Jerman dalam mempercepat transisi energi yang berkelanjutan dan berdampak langsung pada perekonomian nasional,” ujar Airlangga.
Green Energy Corridor Sulawesi, Tulang Punggung Listrik Bersih
Program GECS difokuskan pada penguatan infrastruktur transmisi listrik untuk memungkinkan integrasi energi terbarukan skala besar. Proyek ini memperoleh pembiayaan pinjaman konsesional sebesar EUR300 juta melalui kerja sama PT PLN (Persero) dan KfW Development Bank.
Keberadaan GECS dinilai krusial karena Sulawesi tengah berkembang pesat sebagai pusat pertumbuhan industri nasional, terutama: kawasan pengolahan nikel dan mineral kritis, smelter industri, serta ekosistem kendaraan listrik.
Dengan jaringan transmisi hijau yang andal, Sulawesi diproyeksikan menjadi koridor listrik bersih yang menopang industrialisasi rendah karbon sekaligus menekan ketergantungan pada energi fosil.
Pendanaan JETP Tembus USD21,8 Miliar
Airlangga mengungkapkan, total komitmen pendanaan JETP Indonesia sebesar USD21,4 miliar, dengan realisasi hingga Januari 2026 mencapai sekitar USD3,4 miliar.
Dalam seremoni tersebut, turut diumumkan penambahan komitmen baru sekitar USD400 juta, sehingga total komitmen meningkat menjadi USD21,8 miliar.
Capaian ini menandai percepatan fase implementasi proyek transisi energi dari perencanaan menuju eksekusi nyata di lapangan.
GBDF Perkuat Ekosistem Pembiayaan Hijau
Selain infrastruktur fisik, JETP juga diperkuat melalui Green Bond Development Facility (GBDF), kemitraan berbasis hibah antara KfW Development Bank dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).
Program ini bertujuan: mengembangkan pasar obligasi hijau, sosial, dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas dan kredibilitas penerbitan, serta memperluas permintaan dan pasokan investasi hijau di Indonesia.
Menuju Net Zero Emission 2060
Pemerintah menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Keuangan, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia, serta dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Jerman dan negara-negara dalam International Partners Group (IPG) yang dipimpin bersama oleh Jerman dan Jepang.
“Percepatan JETP sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pembiayaan transisi energi dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai net zero emission paling lambat 2060,” pungkas Airlangga.
Dengan proyek Green Energy Corridor Sulawesi, wilayah Sulawesi diposisikan bukan hanya sebagai basis industri, tetapi sebagai jantung baru energi hijau Indonesia, yang akan menentukan arah daya saing ekonomi nasional di era rendah karbon. (TR Network)
