Site icon Tropis.id

Tanpa LCA dan Hitung Jejak Karbon, Target Net Zero 2060 Hanya Ilusi

Net Zero Emission (NZE). Ilustrasi

JAKARTA – Target Net Zero Emission (NZE) 2060 tidak akan tercapai tanpa instrumen ilmiah yang kuat.

Metode Life Cycle Assessment (LCA) dan perhitungan carbon footprint kini disebut sebagai instrumen utama Indonesia untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga pertumbuhan industri nasional tetap kompetitif.

Pendekatan berbasis bukti ilmiah ini dinilai krusial agar kebijakan industri tidak lagi bertumpu pada intuisi, melainkan pada data terukur dan analisis komprehensif.

Peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Hismiaty Bahua.

Pandangan tersebut mengemuka dalam workshop bertajuk “Carbon Footprint Calculation and Life Cycle Assessment (LCA) as a Tools-Based Decision Making Approach” yang digelar dalam rangkaian The 9th International Symposium of JSPS Alumni Association of Indonesia, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawiroharjo BRIN, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Hismiaty Bahua, menegaskan bahwa LCA dan carbon footprint adalah instrumen strategis dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045 serta pencapaian Net Zero Emission 2060.

Jepang Siapkan Rp30 Triliun untuk Peneliti Indonesia

“Kita harus memindahkan keterbatasan intuisi menuju pengambilan keputusan berbasis bukti dengan science-based tools,” tegas Hismiaty.

Tantangan: Ekonomi Tumbuh, Emisi Harus Turun

Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement dan memperbarui dokumen Nationally Determined Contribution (NDC). Namun, peningkatan aktivitas ekonomi masih sering diikuti kenaikan emisi karbon.

“Tantangannya adalah bagaimana ekonomi bisa tumbuh pesat, tetapi emisi tetap ditekan hingga nol,” ujarnya.

Dalam konteks inilah, perhitungan carbon footprint dan LCA berfungsi sebagai pendekatan kuantitatif untuk membandingkan berbagai opsi mitigasi emisi secara objektif.

Corporate vs Product Carbon Footprint

Hismiaty menjelaskan perbedaan antara:

Status UNESCO Dipertaruhkan! Ijen Geopark Hadapi Revalidasi 2026

Corporate Carbon Footprint (CCF): total emisi dari seluruh aktivitas perusahaan.

Product Carbon Footprint (PCF): emisi sepanjang siklus hidup produk.

“PCF menjawab berapa besar karbon yang terasosiasi dengan suatu produk,” jelasnya, mulai dari ekstraksi bahan baku, proses manufaktur, distribusi, hingga akhir masa pakai.

Namun ia mengingatkan risiko carbon tunnel vision jika industri hanya fokus pada satu indikator karbon. Tanpa LCA yang komprehensif, bisa terjadi burden shifting, yaitu perpindahan dampak lingkungan dari satu kategori ke kategori lain.

“Kita bisa menggunakan PCF untuk komunikasi pasar yang cepat, dan LCA penuh untuk kebijakan strategis,” ujarnya.

Dunia Terpanggang dan Membeku Sekaligus: Awal 2026 Dibuka dengan Cuaca Ekstrem Mematikan

Empat Tahapan LCA Sesuai Standar ISO

Metodologi Life Cycle Assessment (LCA) mengikuti empat tahapan utama sesuai standar ISO:

1. Penentuan tujuan dan lingkup
2. Analisis inventori (Life Cycle Inventory/LCI)
3. Penilaian dampak (Impact Assessment)
4. Interpretasi hasil

Penentuan system boundary menjadi tahap krusial, apakah analisis dilakukan dengan pendekatan cradle to gate atau cakupan lebih luas seperti cradle to grave.

Tantangan terbesar sering muncul pada pengumpulan data, terutama data primer (foreground data) yang berada dalam kendali langsung perusahaan, serta data sekunder (background data) dari literatur atau database pihak ketiga.

“Kita bisa memprioritaskan foreground data yang berada dalam kendali kita,” sarannya, mengingat pengumpulan data rantai pasok secara menyeluruh membutuhkan biaya dan tenaga besar.

Dari Midpoint ke Endpoint: Mengukur Dampak Nyata

Hasil akhir LCA adalah Impact Assessment, yang dapat diukur melalui dua pendekatan:

Midpoint: fokus pada isu lingkungan seperti perubahan iklim

Endpoint: melihat dampak akhir terhadap kesehatan manusia dan ekosistem

Karena kompleksitas perhitungan manual, penggunaan perangkat lunak khusus LCA sangat direkomendasikan untuk memastikan akurasi dan integrasi database.

Dengan pendekatan berbasis data ini, industri tidak hanya mampu merancang strategi dekarbonisasi yang efektif, tetapi juga membangun pemasaran hijau (green marketing) yang kredibel dan terverifikasi.

Jika Indonesia serius mengejar Net Zero Emission 2060, maka LCA dan perhitungan jejak karbon bukan lagi pilihan—melainkan keharusan strategis. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version