YOGYAKARTA – Di tengah ancaman eksploitasi laut dan ketidakpastian ekonomi nelayan, tradisi adat Sasi di wilayah pesisir Ambon justru terbukti menjadi mekanisme kuat yang menjaga keseimbangan alam sekaligus menopang kesejahteraan masyarakat.
Temuan ini terungkap dalam riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tentang praktik kearifan lokal di Negeri Morella, Ambon, Provinsi Maluku.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PRKKP) BRIN di bawah Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA), bekerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi ini dipimpin oleh Muh Isnanto.
Peneliti PRKKP BRIN, Dandung Budi Yuwono, menjelaskan bahwa Sasi merupakan sistem adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam, baik di darat maupun di laut.
Tradisi ini menetapkan periode larangan mengambil sumber daya tertentu agar ekosistem memiliki waktu untuk pulih secara alami.
“Melalui sistem Sasi, masyarakat secara kolektif menyepakati kapan suatu kawasan atau sumber daya boleh dimanfaatkan dan kapan harus dilindungi. Ini menjadi mekanisme tradisional untuk mencegah eksploitasi berlebihan,” jelas Dandung, dikutip Selasa (10/3/2026).
Dalam praktiknya, Sasi tidak hanya berfungsi sebagai aturan lingkungan, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang memperkuat tata kelola masyarakat pesisir.
Pelaksanaan aturan adat ini melibatkan berbagai lembaga adat seperti Raja, Saniri Negeri, dan perangkat adat lainnya yang bersama masyarakat mengawasi dan menegakkan kesepakatan tersebut.
Keberadaan Sasi membuat pengelolaan sumber daya laut berlangsung lebih terkontrol dan berkelanjutan. Hasilnya, masyarakat nelayan dapat menjaga produktivitas laut dalam jangka panjang sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi keluarga.
Selain Sasi, penelitian ini juga menemukan praktik solidaritas sosial yang hidup di masyarakat pesisir Morella. Salah satunya adalah tradisi Rureha, yaitu kebiasaan nelayan menyisihkan sebagian hasil tangkapan untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan melalui masjid dan tokoh adat.
Ada pula tradisi Sesaji, yakni donasi kolektif yang dihimpun oleh tokoh adat atau Marinyo untuk membantu masyarakat kurang mampu. Sistem solidaritas ini memperkuat jaring pengaman sosial berbasis komunitas.
Penelitian juga mencatat adanya strategi hybrid survival, yaitu pola adaptasi ekonomi masyarakat pesisir yang tidak hanya bergantung pada hasil laut.
Ketika musim timur datang atau cuaca buruk menghambat aktivitas melaut, para nelayan beralih sementara menjadi petani atau pekebun.
Menurut Dandung, temuan ini menegaskan bahwa integrasi kebijakan formal negara dengan nilai-nilai adat lokal seperti Sasi dapat melahirkan model pengelolaan pesisir yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Studi di Negeri Morella menunjukkan bahwa tradisi seperti Sasi bukan sekadar warisan budaya, tetapi fondasi strategis dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat nelayan,” ujarnya.
Riset ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya integrasi nilai adat dalam skema penyediaan kesejahteraan bagi kelompok rentan seperti nelayan, yang kerap menghadapi risiko ekonomi akibat cuaca ekstrem, fluktuasi hasil tangkap, dan keterbatasan akses perlindungan sosial formal.
Karena itu, penelitian bertajuk “Pelestarian Tradisi dan Penguatan Identitas Lokal dalam Strategi Pemenuhan Kesejahteraan Nelayan di Ambon” dilakukan untuk menunjukkan bagaimana tradisi lokal seperti Sasi dapat menjadi fondasi dalam membangun model kesejahteraan nelayan yang lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas. (TR Network)


Komentar