Site icon Tropis.id

Transisi Energi Masuk Laut: Kapal Tangkap Ramah Lingkungan Siap Diluncurkan

Kapal nelayan berlabuh di perairan Rembang, Jawa Tengah, berdampingan dengan instalasi api bubu kubah—perangkap rajungan tradisional berbentuk kubah yang memanfaatkan cahaya api untuk menarik hasil tangkapan. Ilustrasi ini menggambarkan perpaduan kearifan lokal dan inovasi teknologi kapal ramah lingkungan dalam mendukung transisi energi di sektor perikanan tangkap. Foto: Ilustrasi

SURABAYA – Era transisi energi di Indonesia kini tak hanya menyentuh daratan dan sektor industri, tetapi juga mulai merambah laut.

Ketergantungan 80 persen nelayan tradisional terhadap bahan bakar fosil menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan perikanan tangkap nasional.

Biaya operasional yang membengkak dan kualitas hasil tangkapan yang belum optimal mendorong lahirnya inovasi teknologi kapal berbasis energi bersih.

Melalui pengembangan kapal tangkap hybrid berbasis energi baru terbarukan (EBT), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong transformasi sektor kelautan menuju ekonomi biru yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Kepala Pusat Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, menegaskan bahwa modernisasi kapal tangkap menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan biaya operasional nelayan yang sebagian besar terserap untuk bahan bakar minyak.

Tragis, Gajah Sumatera Tewas Tersengat Listrik di Aceh Tengah

“Kapal tangkap dengan teknologi energi terbarukan dan sistem monitoring digital akan membantu nelayan meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga mutu hasil tangkapan,” ujarnya dalam webinar Energi Manufaktur (ENMA) Edisi 03 yang digelar Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Rabu (18/2/2026).

Kapal Hybrid: Hemat Energi, Jangkauan Lebih Jauh

Perekayasa Ahli Muda PRTH BRIN, Nanang Setiyobudi, menjelaskan bahwa inovasi kapal layar hybrid penangkap rajungan memadukan tenaga angin dan listrik.

Kapal ini dirancang untuk menjawab keterbatasan nelayan kecil yang rata-rata hanya mampu melaut hingga 12 mil laut.

Dengan sistem hybrid layar dan motor listrik, kapal mampu beroperasi hingga 10 hari, menampung hasil tangkap sampai dua ton, serta menghemat penggunaan BBM hingga 76 persen per perjalanan.

Inovasi ini juga mengedepankan kearifan lokal, seperti desain kapal dan api bubu kubah di Rembang, Jawa Tengah.

Ekologi Jakarta Belum Mati: 99 Spesies Burung Terekam di Tiga Kawasan Pesisir

Dukungan Industri Rajungan

Ketua Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia (APRI), Kuncoro Catur Nugroho, menyambut positif inovasi tersebut.

Ia menilai kapal efisien berbasis energi terbarukan sangat dibutuhkan di sentra produksi rajungan nasional, terutama di Jawa Timur.

Menurutnya, selain efisiensi bahan bakar, kapal tangkap masa depan juga harus dilengkapi sistem penyimpanan modern agar kualitas rajungan tetap terjaga hingga proses distribusi.

PLTS dan Material Modern

Selain kapal hybrid, BRIN juga mengembangkan integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada kapal rajungan untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan kualitas hasil tangkapan.

Inovasi material fiberglass untuk kapal ancak rumput laut turut dikembangkan guna meningkatkan efisiensi dan ketahanan kapal.

Gelombang Rossby Ekuatorial Kepung Indonesia dan Picu Hujan Ekstrem

Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan komunitas nelayan.

Transisi energi di laut kini tidak lagi hanya sebatas gagasan. Dengan inovasi kapal ramah lingkungan, BRIN berupaya memastikan nelayan Indonesia tak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing di pasar global melalui efisiensi, keberlanjutan, dan teknologi modern. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version