BANDUNG – Gelombang pertanian urban kian menguat di Kota Kembang. Pelaku UMKM di Bandung kini mulai menggalakkan hidroponik sebagai strategi cerdas mengubah lahan sempit menjadi sumber penghasilan baru.
Bertempat di Kecamatan Sukajadi, Bandung, Rabu (18/2), Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Aris Pramudia, membimbing langsung peserta UMKM binaan Rumah BUMN Bandung mempraktikkan budidaya tanaman berbasis hidroponik.
Pelatihan ini menjadi ruang belajar aplikatif bagi pelaku usaha kecil untuk menguasai metode bercocok tanam tanpa tanah (soilless) yang mengandalkan air bernutrisi sebagai media utama.
“Hidroponik mengganti tanah dengan air yang diperkaya unsur hara makro dan mikro, sehingga nutrisi langsung diserap akar tanaman. Tanaman tumbuh lebih cepat, efisien, dan bersih. Ini sangat cocok untuk lahan sempit di perkotaan,” ujar Aris.
Hidroponik: Efisien, Bersih, dan Produktif
Menurut Aris, hidroponik menawarkan sejumlah keunggulan dibanding pertanian konvensional. Sistem ini lebih hemat lahan dan air karena nutrisi diberikan secara terukur langsung ke akar melalui larutan hara.
Beberapa keunggulan hidroponik antara lain:
– Pertumbuhan tanaman lebih cepat karena penyerapan hara optimal.
– Risiko hama dan penyakit tanah dapat ditekan.
– Minim gulma sehingga perawatan lebih mudah.
– Hasil panen lebih bersih dan berkualitas.
Meski berbasis air, sistem hidroponik tetap memerlukan media penopang akar seperti sekam bakar, cocopeat (sabut kelapa), rockwool, arang, atau kerikil untuk menjaga stabilitas dan kelembapan perakaran.
Dari Pemula hingga Skala Komersial
Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan berbagai sistem hidroponik yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan skala usaha.
Sistem yang diperkenalkan meliputi:
– Wick System (sistem sumbu) untuk pemula.
– Nutrient Film Technique (NFT) yang populer di skala komersial.
– Deep Water Culture (rakit apung).
– Ebb and Flow (pasang surut).
– Drip System (tetes).
– Aeroponik, hingga Deep Flow Technique (DFT) dan Dutch Bucket.
“Setiap sistem punya keunggulan. Sistem sumbu mudah dan murah untuk pemula, sementara NFT dan aeroponik lebih optimal untuk produksi komersial,” jelas Aris.
Tak hanya teori, peserta diajak merakit instalasi hidroponik dengan bahan yang mudah ditemukan. Pendekatan ini membuat teknologi terasa lebih inklusif dan mudah direplikasi di rumah maupun dikembangkan menjadi lini usaha baru.
Antusiasme Tinggi, Siap Panen Ilmu dan Untung
Semangat peserta terlihat tinggi sepanjang pelatihan. Mereka tak hanya memahami konsep, tetapi juga membawa pulang keterampilan praktis yang siap diterapkan.
“Peserta sangat berminat. Ilmu yang didapat bisa langsung dipraktikkan di tempat masing-masing. Semoga bermanfaat dan berkembang ke skala yang lebih besar,” kata Aris.
Indri, pemilik usaha keripik peuyeum, mengaku pelatihan ini menjadi pengalaman pertamanya mengenal hidroponik secara mendalam.
“Pelatihannya sangat aplikatif dan membuka pengetahuan serta keterampilan baru. Terima kasih BRIN dan Rumah BUMN. Sangat bermanfaat,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, BRIN menegaskan bahwa riset tidak berhenti di laboratorium. Inovasi hidroponik hadir sebagai solusi konkret untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong pertanian urban, sekaligus membuka peluang cuan baru bagi UMKM Bandung di tengah keterbatasan lahan. (TR Network)
