BRUSSEL – Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan bagi Uni Eropa. Setiap tahun, kawasan ini menanggung kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem hingga 45 miliar euro atau setara Rp 898 triliun.
Angka fantastis itu mencerminkan dampak nyata perubahan iklim terhadap infrastruktur, ekonomi, dan keselamatan warga.
Dewan Penasihat Ilmiah Eropa tentang Perubahan Iklim menilai Eropa belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan risiko akibat pemanasan global.
Para pakar memperingatkan, tanpa percepatan investasi adaptasi dan mitigasi, suhu global berpotensi meningkat hingga 3,3 derajat Celsius pada 2100—sebuah skenario yang dapat memperparah bencana banjir, kebakaran hutan, dan gelombang panas.
Pemanasan Eropa Meningkat Tajam
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat Eropa termasuk kawasan dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi serta intensitas gelombang panas, badai, dan hujan ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.
Lonjakan kejadian cuaca ekstrem itu berdampak langsung pada kerusakan jalan, rel kereta, jaringan listrik, hingga fasilitas publik.
Jika dibandingkan dekade 1980-an, kerugian ekonomi akibat dampak perubahan iklim kini melonjak lima kali lipat.
Faktor Antropogenik Jadi Pemicu Utama
WMO menegaskan bahwa meski perubahan iklim dapat dipengaruhi faktor alami seperti siklus matahari atau letusan gunung berapi, penyebab dominan saat ini adalah aktivitas manusia.
Pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, perubahan tata guna lahan, pengelolaan limbah yang buruk, serta aktivitas industri mempercepat akumulasi gas rumah kaca di atmosfer.
Perubahan iklim antropogenik tersebut telah memicu fenomena cuaca ekstrem di hampir seluruh belahan dunia, termasuk Eropa.
Investasi Adaptasi Mendesak
Dewan Pakar mendesak negara-negara anggota Uni Eropa untuk memperkuat perlindungan masyarakat dan infrastruktur melalui investasi adaptasi iklim yang lebih agresif.
Tanpa langkah konkret, risiko kerugian ekonomi akan terus meningkat, sementara dampak sosial—seperti krisis kesehatan akibat gelombang panas—kian sulit dikendalikan.
Krisis iklim kini bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan tantangan ekonomi dan keamanan kawasan.
Dengan kerugian mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, Eropa berada di titik kritis: berbenah cepat atau menghadapi konsekuensi yang jauh lebih mahal di masa depan. (TR Network)
