OPINI
Beranda / News / OPINI / Kecantikan Mematikan di Atas Tanah Telanjang

Kecantikan Mematikan di Atas Tanah Telanjang

Hamparan lahan pertanian yang indah. Ist

Pemandangan ladang yang terhampar bersih tanpa sehelai rumput liar sering kali memantik kekaguman visual. Tanah cokelat yang tampak rapi, bebas dari vegetasi pengganggu, secara tradisional dianggap sebagai cerminan etos kerja dan dedikasi tinggi seorang penggarap lahan. Wacana umum dalam kehidupan agraris kerap menempatkan kebersihan fisik sebagai indikator utama keberhasilan penyiapan lahan sebelum masa tanam dimulai.

Kondisi tanah yang bersih dari gulma tersebut kerap dipandang sebagai standar estetika ideal dalam lanskap pertanian konvensional. Penilaian sosial di tingkat tapak sering kali menyudutkan petani yang membiarkan semak atau tumbuhan liar tumbuh di sekitar tanaman utama. Prasangka ini membentuk konstruksi berpikir bahwa lahan yang “kotor” merupakan wujud kelalaian, ketidakmampuan, atau kemalasan dalam mengelola unit usahatani. Hal ini terungkap dalam kajian yang dilakukan Azucena Lucatero dan Madeleine Fairbairn dalam artikel berjudul “Garden as society: exploring the values embedded in community garden aesthetics” yang dipublikasikan tahun 2025 di Jurnal Agriculture and Human Values. Pandangan yang sama juga terungkap dalam artikel berjudul “Tidy Fields and Clean Shirts: A Comparative Ethnography of Good Farming in South Dakota and Luis Eduardo Magalhães” yang ditulis oleh Andrew Ofstehage dan dipublikasikan tahun 2021 di Jurnal Culture, Agriculture, Food and Environment.

Bianca Amato dan Sophie Petit dalam artikel berjudul “Improving conservation outcomes in agricultural landscapes: farmer perceptions of native vegetation on the Yorke Peninsula, South Australia” menyebutkan bahwa gulma sebagai pesaing memang menurunkan produksi, tetapi standar lahan bersih juga merupakan konstruksi sosial. Gulma tetap perlu ditekan, tetapi standar estetika lahan bersih tidak selalu identik dengan kesehatan tanah, keberlanjutan, atau keberhasilan konservasi, yang juga sangat dipengaruhi persepsi petani, insentif, perilaku adopsi, dan jejaring pengetahuan.

Ukuran keberhasilan yang sangat berorientasi pada tampilan fisik ini telah mengakar kuat dalam budaya bertani di berbagai daerah. Pengondisian sosial tersebut secara perlahan melahirkan persaingan tidak tertulis antarpetani untuk menampilkan lahan yang paling rapi dan steril. Akibatnya, standar estetika luar justru menggeser pemahaman dasar mengenai kesehatan ekosistem tanah yang sejati.

Demi mengejar predikat lahan ideal tersebut, intervensi kimiawi dan fisik secara masif menjadi pilihan yang lazim diandalkan. Penggunaan herbisida kontak maupun sistemik dosis tinggi diterapkan untuk memusnahkan seluruh tumbuhan bawah hingga tidak bersisa. Praktik pembakaran serasah sisa panen pun kerap dilakukan sebagai jalan pintas untuk memusnahkan material organik yang dianggap mengotori permukaan tanah.

Strategi “Zero Waste” Pertanian Jeruk Bangli Lewat Inovasi Kemasan “Eco-Friendly

Langkah instan ini secara visual memang berhasil menciptakan hamparan tanah yang bersih dan tampak siap ditanami dalam waktu singkat. Efisiensi tenaga kerja dan kecepatan proses penyiapan lahan menjadi alasan utama di balik popularitas metode tersebut. Penggunaan teknologi kimia modern ini pun kerap dipersepsikan sebagai bentuk modernisasi pertanian yang efisien dan rasional.

Namun, estetika visual yang disajikan di atas permukaan tanah tersebut sejatinya menyimpan bahaya ekologis yang sangat destruktif. Kebersihan semu yang dicapai melalui pemusnahan total vegetasi lokal merupakan bentuk ilusi keberhasilan yang bertentangan dengan prinsip ekologi dasar. Penelanjangan permukaan tanah justru menjadi awal dari degradasi daya dukung lingkungan secara perlahan namun pasti.

Pembersihan lahan secara radikal menghilangkan lapisan pelindung alami yang dibutuhkan tanah untuk mempertahankan strukturnya. Keberadaan gulma dan serasah yang dianggap sebagai pengganggu sejatinya memiliki peran vital dalam meredam energi kinetik air hujan dan menahan laju aliran permukaan. Tanpa adanya penutup tanah, mekanisme pertahanan alami ekosistem pertanian menjadi runtuh sepenuhnya.

Fuke Yu dan Kawan-kawan dalam publikasinya di Forests tahun 2024 dengan judul “Impacts of the Integrated Management of Invasive Weeds and Litter on Slope Hydrology in Eucalyptus Plantations in Central Yunnan, Southwest China” menyebutkan bahwa ketika penutup tanah dihilangkan, hujan langsung menghantam tanah, infiltrasi turun, ambang terbentuknya limpasan menjadi lebih rendah, dan kehilangan tanah meningkat. Penutup tanah hidup maupun mati mengintersepsi tetes hujan, meningkatkan kekasaran permukaan, memperlambat aliran permukaan, dan umumnya menurunkan limpasan serta sedimen dibanding tanah terbuka.

Kondisi tanah yang telanjang bulat memicu keterpaparan langsung terhadap radiasi sinar matahari dan hempasan iklim yang ekstrem. Struktur tanah atas yang sebelumnya kaya akan bahan organik menjadi rentan terurai dan tererosi secara masif. Fenomena ini menciptakan paradoks baru di mana upaya mempercantik tampilan luar lahan justru merusak fondasi kesuburan tanah itu sendiri.

Pangan Seragam, Ketahanan yang Rapuh : Gugatan terhadap Monokultur Ekstrem dan Ilusi Inovasi Varietas Baru

Jadi kebersihan fisik lahan bukanlah jaminan atas keberlanjutan fungsi ekologis. Pemahaman yang keliru mengenai estetika lahan harus dibongkar secara kritis guna menyelamatkan kualitas daya dukung tanah jangka panjang. Fenomena “Kecantikan Mematikan di Atas Tanah Telanjang” menjadi titik awal untuk mengurai secara mendalam bagaimana praktik yang lumrah dilakukan justru menjadi ancaman nyata bagi masa depan pertanian.

Bencana Berjubah Kebersihan

Langgam berpikir yang menempatkan kebersihan fisik sebagai tolok ukur keberhasilan bertani telah melahirkan ketergantungan masif pada instrumen kimiawi. Herbisida tidak lagi diposisikan sebagai alat kendali darurat ketika populasi gulma melampaui batas ambang ekonomi, melainkan sebagai syarat mutlak dalam proses pra-tanam. Paradigma efisiensi serba instan ini menggeser kalkulasi ekologis jangka panjang dengan keuntungan teknis jangka pendek yang tampak menggiurkan di atas kertas.

Penggunaan herbisida kontak maupun sistemik secara berulang menciptakan fenomena pemusnahan massal vegetasi non-komoditas di tingkat lapangan. Aplikasi bahan kimia ini bekerja cepat meluruhkan jaringan hijau, merobohkan struktur gulma, dan menyisakan hamparan tanah telanjang dalam hitungan hari. Efektivitas semu ini disambut sebagai keberhasilan teknologi yang mampu memangkas alokasi tenaga kerja penyiangan secara signifikan.

Langkah instan tersebut kerap dikombinasikan dengan praktik pembakaran serasah sisa panen untuk mempercepat pembersihan ruang tanam. Batang, daun, dan jerami yang tersisa dianggap sebagai limbah visual yang mengganggu pergerakan alat pertanian serta memperlambat siklus penanaman berikutnya. Pembakaran menjadi mekanisme paling murah dan cepat untuk melenyapkan jejak vegetasi lama demi menyambut komoditas baru.

Menguji Daulat Pangan di Atas Tanah Plastik

Rangkaian intervensi fisik dan kimiawi tersebut membentuk sebuah lanskap yang secara visual tampak sangat tertata. Kebersihan buatan ini memberikan kepuasan psikologis bagi pengelola lahan karena menyajikan ilusi kendali penuh manusia atas alam. Lahan yang steril dipandang sebagai bukti nyata dari dominasi teknologi terhadap keberagaman ekosistem liar.

Namun, di balik tampilan lahan yang rapi tersebut, berlangsung sebuah proses perusakan sistemik terhadap tatanan ekologi tanah. Kebersihan yang dirayakan di atas permukaan sejatinya dibayar mahal dengan kehancuran fungsional di bawah permukaan. Penelanjangan tanah secara paksa menghilangkan penutup alami yang berfungsi sebagai penyangga benturan fisik lingkungan.

Logika pertanian konvensional yang mengagungkan lahan steril pada dasarnya mengabaikan fakta bahwa vegetasi bawah merupakan komponen penting dari struktur tanah yang sehat. Gulma dan serasah bukanlah musuh yang harus dimusnahkan tanpa sisa, melainkan elemen penyeimbang yang menjaga kelembapan serta suhu mikro tanah. Penghilangan total elemen penutup ini merusak keseimbangan suhu yang dibutuhkan oleh organisme tanah untuk bertahan hidup.

Praktik membakar serasah juga menjadi bentuk pemborosan hara yang sangat ironis dalam tata kelola lahan. Pembakaran mengubah potensi bahan organik bernilai tinggi menjadi emisi karbon yang terlepas sia-sia ke udara. Siklus pengembalian hara alami terputus secara mendadak hanya demi mempertahankan estetika lahan yang bebas dari tumpukan material sisa.

Akibat hilangnya tutupan vegetasi dan serasah, struktur fisik tanah mengalami pemadatan dan pengerasan secara bertahap. Pori-pori tanah yang seharusnya menjadi ruang udara dan pergerakan air mengalami penyumbatan akibat erosi halus serta hilangnya aktivitas biologi. Lahan yang tampak bersih dari luar perlahan berubah menjadi medium yang semakin keras dan sulit ditembus oleh perakaran tanaman utama.

Kondisi tanah yang mengeras ini menciptakan ilusi kebutuhan baru berupa pengolahan tanah yang semakin intensif dan penggunaan pupuk kimia yang semakin tinggi. Petani terjebak dalam lingkaran setan intervensi: semakin tanah dibersihkan dan dirusak strukturnya, semakin besar input luar yang dibutuhkan untuk mempertahankan produktivitas. Ketergantungan terhadap input sintetis pun meningkat sebagai akibat dari hilangnya fungsi alami tanah.

Ilusi kebersihan ini pada akhirnya menyembunyikan bencana ekologis di balik topeng efisiensi dan kerapian visual. Praktik yang selama ini dianggap sebagai indikator kemajuan teknologi bertani sejatinya merupakan bentuk kemunduran dalam pemahaman ekologi. Bencana tersebut bekerja secara perlahan, tidak mengepulkan asap krisis secara mendadak, tetapi mengikis kapasitas reproduksi alami tanah dari satu musim ke musim berikutnya.

Pembiaran terhadap pola pikir ini hanya akan mempercepat pembentukan lahan-lahan pertanian yang kritis di berbagai wilayah. Standar kebersihan yang tidak berdasar pada prinsip ekologi telah menyesatkan praktik budidaya. Sudah saatnya cara pandang tersebut dibedah dan diurai secara rasional demi menghentikan degradasi tanah yang berselubung estetika semu.

Kenyataan Ekologis: Apa yang Terjadi di Bawah Permukaan?

Tabir estetika yang membungkus kebersihan lahan seketika runtuh ketika fokus pengamatan dialihkan ke bawah permukaan tanah. Bencana ekologis dan kemerosotan daya dukung lingkungan sedang berlangsung secara masif di balik hamparan tanah yang rata. Kerusakan ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan berlangsung perlahan akibat hilangnya komponen pelindung utama.
Penelanjangan lahan berdampak langsung pada hilangnya pertahanan fisik tanah terhadap ancaman erosi. Hantaman tetesan air hujan yang langsung mengenai permukaan tanah mampu memecah agregat tanah paling halus. Lapisan tanah atas yang paling subur dan kaya bahan organik terhanyut oleh aliran air permukaan, membawa pergi nutrisi penting yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Proses pengikisan tersebut menyisakan lapisan tanah bawah yang jauh lebih padat, miskin hara, dan berkapasitas serap air rendah. Terpaan angin pada lahan terbuka mempercepat penguapan kelembapan tanah secara drastis. Struktur tanah yang kering dan terbuka membuat materialnya mudah terurai menjadi debu, mengikis fondasi kesuburan alami secara konstan.

Penumpasan total tumbuhan bawah melalui herbisida dan pembakaran serasah melumpuhkan benteng ekologis alami. Gulma dan rumput liar di sekitar kawasan pertanaman sejatinya menyediakan habitat serta sumber pakan alternatif bagi serangga predator. Musnahnya vegetasi pelindung membuat ruang hidup musuh alami hama ikut terhapus.

Kepunahan lokal populasi predator seperti laba-laba, kumbang, dan serangga penyerbuk memicu ketidakseimbangan rantai makanan. Populasi hama utama berpotensi melonjak tajam saat tanaman komoditas mulai tumbuh karena hilangnya musuh alami. Kondisi tersebut memaksa dilakukannya penyemprotan pestisida yang lebih sering, menciptakan lingkaran ketergantungan baru yang kian merusak.

Kehancuran paling masif terjadi pada skala mikroskopis yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Penggunaan herbisida secara berulang serta peningkatan suhu tanah membunuh jutaan mikroorganisme menguntungkan. Bakteri pengikat nitrogen, jamur mikoriza, dan organisme pengurai bahan organik mengalami penyusutan populasi secara drastis.

Keberadaan jamur mikoriza memiliki peran vital dalam membantu perakaran tanaman menyerap unsur hara fosfor dan air dari rongga tanah. Pembasmian vegetasi bawah serta terputusnya pasokan bahan organik secara langsung memutus rantai persediaan makanan bagi jamur penolong ini. Perakaran tanaman utama menjadi kerdil dan sangat bergantung pada asupan pupuk sintetis dari luar.

Menurut Jincai Shi dan Kawan-kawan dalam artikel berjudul “Mycorrhizal Symbiosis in Plant Growth and Stress Adaptation: From Genes to Ecosystems” yang dipublikasikan di Annual review of plant biology tahun 2022, Jamur mikoriza arbuskula (AMF) memperluas jangkauan perakaran melalui hifa ekstraradikal, sehingga tanaman dapat mengambil fosfor (P), air, dan mineral lain dari volume tanah yang tidak dapat dijangkau akar sendiri. Manfaat ini paling penting untuk P karena P adalah unsur yang mobilitas dan ketersediaannya rendah, sehingga akar cepat membentuk zona deplesi P di sekitar permukaan serap.

Pemutusan rantai bahan organik akibat pembakaran serasah menghentikan proses pembentukan humus secara alami. Humus merupakan komponen kunci yang menentukan kemampuan tanah dalam mengikat air dan menjaga ketersediaan nutrisi. Tanah secara bertahap kehilangan elastisitas biologisnya dan berubah menjadi medium mati yang keras tanpa pasokan bahan organik rutin.

Suhu tanah telanjang yang melonjak tajam akibat paparan sinar matahari langsung mempercepat proses oksidasi bahan organik tersisa. Mikroba tanah terpaksa bekerja melebihi kapasitas normal untuk menguraikan sisa hara dalam kondisi stres suhu. Fenomena ini menyebabkan pelepasan karbon terikat ke udara secara berlebihan, memperburuk emisi gas rumah kaca di sektor pertanian.

Dampak akumulatif seluruh proses ini adalah perubahan karakteristik tanah secara mendasar, baik secara fisik, kimia, maupun biologi. Tanah yang semula gembur dan penuh kehidupan berubah menjadi lingkungan yang steril dan padat. Gejala ini sering kali direspons secara keliru dengan menambah dosis pengolahan tanah dan pemupukan kimia, yang justru kian memperparah kerusakan.

Fakta ilmiah ini membuktikan bahwa konsep lahan bersih semata-mata merupakan ilusi efisiensi yang dibayar mahal oleh penurunan kualitas ekosistem. Penelanjangan permukaan tanah merupakan bentuk eksploitasi yang mengorbankan stabilitas jangka panjang demi kepraktisan jangka pendek. Pemahaman yang keliru ini perlu ditata ulang agar pengelolaan lahan kembali berlandaskan pada prinsip pelestarian hayati.

Kesuburan tanah sejati tidak ditentukan oleh seberapa bersih permukaannya dari gulma. Masa depan pertanian berkelanjutan sangat bergantung pada keberanian untuk meninggalkan estetika semu dan mulai merawat kehidupan tak terlihat di bawah tanah.

Refleksi & Solusi: Menuju Standar “Kecantikan” Baru

Pengakuan atas kehancuran ekologis di balik kebersihan lahan menuntut perubahan paradigma yang mendasar dalam praktik budidaya. Redefinisi makna lahan yang “indah” dan “terawat” harus segera dilakukan untuk menghentikan degradasi kualitas tanah yang meluas. Standar estetika baru pertanian tidak lagi diukur dari keteraturan visual yang steril, melainkan dari tingkat kehidupan dan keragaman hayati yang terjaga di atasnya.

Kesadaran baru ini menempatkan vegetasi non-komoditas bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai kawan yang menguntungkan. Kebiasaan memandang lahan bersih telanjang sebagai simbol kelayakan usaha tani harus digantikan dengan pemahaman mengenai pentingnya tutupan tanah alami. Lahan pertanian yang sehat adalah lahan yang bernapas, terlindungi, dan terintegrasi dengan siklus alam.

Penggunaan tanaman penutup tanah (cover crops) dari kelompok legum menjadi salah satu langkah solutif yang sangat rasional. Tanaman pelindung ini berfungsi menahan laju erosi, menjaga kelembapan mikro, serta menambat nitrogen bebas dari udara secara biologis. Penanaman vegetasi penutup memangkas kebutuhan pupuk kimia sintetis sekaligus melindungi topsoil dari paparan sinar matahari langsung.

Pengelolaan gulma berwawasan ekologi harus menggeser tradisi pembasmian total dengan herbisida secara membabi butur. Pengendalian gulma difokuskan pada pembatasan populasi agar tidak melewati ambang persaingan hara dengan tanaman utama. Pembabatan terarah atau penggunaan mulsa jauh lebih bijaksana dibanding menciptakan tanah telanjang yang rentan tererosi.

Pemanfaatan jalur refugia atau areal pertanaman bunga di sekitar pinggiran galengan menjadi strategi penting lain. Kehadiran tanaman berbunga ini menyediakan habitat, tempat berlindung, serta sumber pakan bagi musuh alami dan serangga penyerbuk. Kehadiran populasi predator yang stabil menekan resiko ledakan hama tanpa harus mengandalkan semprotan pestisida kimia berlebih.

Praktik pembakaran serasah sisa panen harus dihentikan sepenuhnya demi mengembalikan bahan organik ke dalam tanah. Batang, jerami, dan daun sisa panen dapat diolah menjadi mulsa organik atau dikembalikan langsung sebagai kompos. Langkah ini secara konsisten memperbaiki struktur fisik tanah, memicu aktivitas mikroorganisme pengurai, serta membentuk humus tanah.

Transisi menuju standar kebersihan baru ini memerlukan dukungan literasi dan pendampingan lapangan yang konsisten. Petani perlu mendapatkan pemahaman komprehensif bahwa kehadiran rumput liar pada tingkat tertentu memiliki peran ekologis yang sangat vital. Edukasi berbasis bukti lapangan akan membantu mengikis prasangka sosial mengenai citra “petani malas” akibat lahan yang tidak steril.

Kebijakan publik di sektor pertanian juga harus mulai menyelaraskan indikator keberhasilan bantuan program dengan prinsip ekologi. Bantuan input kimiawi yang eksesif perlu dialihkan pada insentif penerapan teknologi hijau berbasis konservasi tanah dan air. Regulasi yang memihak pada kesehatan tanah jangka panjang akan mempercepat adopsi praktik pertanian ramah lingkungan.

Penerapan teknologi pertanian modern harus diarahkan untuk mendukung proses biologis alami, bukan malah menggantikannya secara paksa. Penggunaan alat mesin pertanian modern seharusnya disesuaikan agar tidak merusak agregat tanah dan membunuh mikroorganisme lokal. Teknologi sejati adalah teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan daya dukung ekosistem.

Inovasi lokaspesifik berbasis kearifan lokal dalam menjaga kesuburan tanah perlu direvitalisasi kembali. Banyak tradisi agraris Nusantara yang sejak lama menerapkan sistem penutupan tanah dan pengomposan alami sebelum tergerus oleh arus modernisasi kimiawi. Menggabungkan pengetahuan lokal dengan ilmu ekologi modern akan menciptakan sistem pertanian yang sangat tangguh.

Meninggalkan obsesi lahan bersih telanjang merupakan investasi jangka panjang bagi kedaulatan pangan nasional. Tanah yang kaya bahan organik dan sarat aktivitas biologi memiliki daya tahan lebih tinggi terhadap ancaman perubahan iklim ekstrem. Keberlanjutan produksi pangan sangat bergantung pada kesehatan fondasi tanah yang dirawat hari ini.

Saatnya mengubah cara kita menilai keindahan sebuah lahan pertanian. Kecantikan sejati berada pada tanah yang subur, hidup, dan sanggup menopang kehidupan secara berkelanjutan. Sudah saatnya membalut kembali tanah pertanian dengan busana keragaman hayati demi mengamankan masa depan generasi mendatang.

Membalut Kembali Lahan yang Telanjang
Perjalanan membongkar ilusi keberhasilan pertanian konvensional bermula dari sebuah keberanian untuk melihat kebenaran di balik tampilan luar. Kerapian dan kebersihan fisik lahan yang selama ini diagungkan ternyata menyimpan kehancuran ekologis yang sangat merusak. Transformasi cara pandang menjadi kebutuhan mendesak apabila ingin menyelamatkan fondasi kesuburan tanah dari degradasi yang makin parah.

Perubahan paradigma berani ini harus dimulai dari pengakuan jujur bahwa tanah bukanlah medium mati yang sekadar menopang batang tanaman. Tanah merupakan ekosistem hidup yang menuntut interaksi seimbang antara komponen fisik, kimia, dan biologi di dalamnya. Membiarkan tanah terbuka tanpa pelindung sama saja dengan membiarkan organ vital ekosistem pertanian terpapar bahaya tanpa pertahanan.

Meninggalkan obsesi terhadap lahan yang steril bukan berarti membiarkan pertanaman tidak terawat secara liar. Pendekatan ini merupakan bentuk kearifan baru dalam memadukan efisiensi produksi dengan prinsip pelestarian lingkungan. Keseimbangan ekosistem hanya dapat dicapai apabila ruang hidup bagi organisme tanah dan vegetasi penutup kembali dihargai.

Ukuran keberhasilan seorang pengelola lahan sudah sepatutnya digeser dari estetika visual menuju ketahanan ekologis jangka panjang. Petani yang bijak tidak lagi bangga pada hamparan tanah hitam yang telanjang bulat akibat herbisida. Kebanggaan sejati terletak pada kemampuan menjaga struktur tanah tetap gembur, kaya bahan organik, dan sarat akan aktivitas keanekaragaman hayati.
Peran media, akademisi, dan penentu kebijakan sangat krusial dalam mengawal narasi baru ini di tengah masyarakat. Wacana keberlanjutan harus diartikulasikan secara konsisten untuk meruntuhkan stigma keliru mengenai kebersihan lahan. Dukungan regulasi dan insentif nyata diperlukan agar adopsi praktik pertanian ramah lingkungan dapat meluas secara masif.

Implementasi konsep pertanian berkelanjutan tidak boleh lagi berhenti pada sebatas wacana atau jargon ilmiah di ruang seminar. Langkah nyata di tingkat lapangan harus segera diambil untuk menghentikan penggunaan herbisida berlebihan dan pembakaran serasah. Setiap tindakan kecil dalam menjaga tutupan tanah merupakan investasi berharga bagi masa depan kedaulatan pangan.

Buku Ilusi Pertanian menyajikan kritik mendalam ini bukan untuk melemahkan semangat para pelaku sektor agraris di tanah air. Kajian kritis ini hadir sebagai kompas petunjuk untuk meluruskan arah tata kelola lahan yang sempat tersesat oleh arus modernisasi serba instan. Keberanian untuk mengoreksi kesalahan masa lalu adalah kunci utama menuju kemandirian pertanian yang sejati.

Kesuburan masa depan tidak akan pernah lahir dari tanah yang dimatikan kehidupannya atas nama kerapian semu. Menyelimuti kembali tanah yang telanjang dengan keragaman hayati adalah wujud pemuliaan paling mendasar terhadap alam. Hanya dengan merawat kehidupan tak terlihat di bawah tanah, ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)

Penulis :
I Nengah Muliarta

– Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa

– Wakil Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Provinsi Bali

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *