JAKARTA — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia dan para mitra memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tahun 2026 melalui sebuah acara The Green Community Festival dengan mengajak komunitas, anak muda, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat luas untuk mengambil tindakan dan berkontribusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Acara publik di Taman Martha Christina Tiahahu di Taman Literasi Blok M, Jakarta, pada Rabu, 25 Juni 2026 ini mengumpulkan sekitar ratusan peserta untuk berdiskusi, belajar, dan beraksi untuk menyelamatkan bumi.
Acara ini hadir pada saat krisis iklim semakin cepat terjadi di depan mata kita. Dunia baru saja melewati tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat, sementara bencana iklim menjadi lebih sering, lebih merusak, dan memakan biaya yang sangat besar.

Urban Farming Workshop bersama Saputri Indah, Alumni Program Petani Keren FAO Indonesia dan Moch. Rizky Faisal, Anggota Trubus Bina Swadaya dan Anggota Aliansi Organis Indonesia. Photo: Talitha Vanya / Pusat Informasi PBB (UNIC)
Setiap kenaikan suhu sekecil apa pun sangatlah berdampak, dan setiap detiknya sangatlah berharga, terutama bagi masyarakat yang sudah menghadapi dampak perubahan iklim secara langsung.
“Aksi iklim bukan hanya tentang kebijakan berskala besar. Ini juga tentang pilihan yang kita buat setiap hari, di rumah, di sekolah, di komunitas kita, dan dalam cara kita saling peduli,” kata Miklos Gaspar, Direktur Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia.
“Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah momen untuk mendengarkan sinyal-sinyal yang dikirimkan Bumi kepada kita, dan meresponsnya dengan tindakan.”
Acara ini menampilkan lokakarya pertanian perkotaan, gelar wicara tentang investasi hijau, permainan bertema keberlanjutan, pertunjukan musik, dan stan pameran dari badan-badan PBB, mitra pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lingkungan.
Kampanye ini juga menyoroti hubungan antara perubahan iklim, sistem pangan, pengungsian, mata pencaharian, dan kesetaraan gender, yang menghubungkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan Hari Pengungsi Sedunia dan Tahun Perempuan Tani Internasional.
Cool School Challenges: Ide Iklim dari Generasi Muda
Salah satu puncak acara tersebut adalah pengumuman Cool School Challenges, sebuah inisiatif iklim anak muda yang mengundang Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Indonesia untuk berbagi ide dan tindakan demi sekolah dan komunitas yang lebih berkelanjutan.
Tantangan ini menerima 76 karya dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 finalis terpilih berasal dari wilayah Jawa, Kalimantan Timur, Aceh, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Ide-ide para siswa meliputi penghijauan sekolah, pengurangan sampah, pertanian perkotaan, tindakan hemat energi, kampanye lingkungan, dan solusi iklim berbasis komunitas.
“Ke-76 karya tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak menunggu orang lain untuk bertindak. Mereka sudah memulainya dari sekolah dan komunitas mereka sendiri,” kata Miklos Gaspar. “Itu memberi kita harapan.”
Pemenang inisiatif Cool School Challenges adalah SMA Al Umanaa Boarding School, Sukabumi, Jawa Barat. Pemenang kedua adalah Sekolah Santa Ursula dari Jakarta, sementara pemenang ketiga adalah SMAN 1 Bekasi dari Jawa Barat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia mengucapkan selamat kepada semua finalis dan sekolah yang berpartisipasi atas kreativitas, komitmen, dan kepemimpinan mereka dalam aksi iklim.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia adalah pengingat bahwa melindungi bumi dapat dimulai dengan tindakan sederhana sehari-hari seperti menanam tumbuhan, mengurangi sampah, menghemat energi, memilih makanan yang lebih berkelanjutan, dan peduli terhadap masyarakat yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim.
Namun pesannya juga mendesak: waktu untuk bertindak semakin sempit. Apa yang kita lakukan sekarang akan membentuk keselamatan, ketahanan, dan masa depan generasi berikutnya. (TR Network)


Komentar