News
Beranda / News / Krisis Sampah Laut di Indonesia: Menteri LH Ungkap Fakta Pahit

Krisis Sampah Laut di Indonesia: Menteri LH Ungkap Fakta Pahit

Krisis Sampah Laut di Indonesia. Arsip

JAKARTA — Menteri Lingkungan Hidup (LH) Indonesia Hanif Faisol Nurofiq secara terbuka mengakui beratnya menangani krisis sampah laut di Indonesia.

Pasalnya, biaya mahal dan luasnya wilayah laut nasional membuat penanganan menjadi kompleks dan tidak efisien.

“Kalau sampah sudah di laut, biayanya jadi mahal dan tidak karu-karuan,” ujarnya di Makassar, Minggu (5/4/2026).

Ia menegaskan, metode seperti insinerator tidak efektif digunakan untuk sampah laut karena kandungan garam berpotensi memicu zat berbahaya seperti dioksin dan furan saat dibakar.

Darat Jadi Sumber Bencana Laut

Fakta paling krusial yang diungkap adalah: sampah laut sebenarnya berasal dari daratan. Buruknya sistem pengelolaan sampah di hulu membuat limbah mengalir ke sungai hingga bermuara ke laut.

Inovasi Teknologi Sampah BRIN Menginspirasi Dunia

Secara nasional: Baru 25% sampah yang berhasil diolah, Sekitar 60% masuk ke TPA dan Sisanya, 40% tercecer ke lingkungan — dan akhirnya ke laut.

Kondisi ini menjadikan laut sebagai “tempat pembuangan akhir raksasa” yang tak terkendali.

Target 2029: Kejar Ketertinggalan 75%

Pemerintah menargetkan persoalan sampah darat harus tuntas pada 2029, sesuai arahan Prabowo Subianto. Namun, dengan capaian saat ini, Indonesia masih harus mengejar 75% pengelolaan sampah dalam waktu singkat.

Karena itu, strategi utama pemerintah kini diarahkan: Fokus bereskan sampah di darat terlebih dahulu, Baru kemudian mengendalikan sampah laut.

Bukan Beban Daerah Semata

Hanif menegaskan, persoalan sampah laut tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah seperti gubernur atau bupati. Ini adalah krisis nasional yang membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan.

Indonesia Rawan Tsunami: Sistem Deteksi Kalah Cepat dari Bencana

Beberapa wilayah prioritas seperti Bali bahkan menjadi contoh nyata betapa parahnya dampak sampah terhadap lingkungan dan pariwisata.

Krisis Nyata yang Tak Bisa Ditunda

Tumpukan sampah di darat—seperti yang terlihat di pasar dan TPA—adalah wajah nyata dari masalah yang lebih besar di laut. Tanpa pembenahan sistemik dari hulu ke hilir, Indonesia akan terus menghadapi bom waktu ekologis yang makin sulit dikendalikan.

Intinya: laut bukan sumber masalah—daratlah biang keladinya. Dan selama darat belum beres, laut akan terus jadi korban. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Bom Waktu Tailing: Bencana Lingkungan di Depan Mata

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *