MOMBASA — Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan maritim dunia dengan meluncurkan empat komitmen baru pada ajang Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya.
Langkah tersebut membuka peluang masuknya pendanaan internasional hingga US$260 juta untuk mendukung konservasi terumbu karang, restorasi ekosistem laut, serta pengembangan pusat-pusat inovasi kelautan.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan komitmen tersebut merupakan bagian dari strategi Indonesia untuk memperkuat tata kelola laut berkelanjutan sekaligus mempercepat aksi iklim melalui solusi berbasis alam.
“Empat komitmen yang kami sampaikan menegaskan langkah konkret Indonesia dalam memperkuat pengelolaan ruang laut, memperluas dan meningkatkan efektivitas kawasan konservasi, serta mengembangkan solusi karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim,” ujar Trenggono melalui keterangan resmi pada 24 Juni 2026.
Komitmen pertama berfokus pada penguatan tata kelola ruang laut melalui integrasi perencanaan tata ruang darat dan laut ke dalam kebijakan nasional maupun daerah. Pemerintah juga akan menyusun regulasi zonasi lintas wilayah serta memasukkan kawasan strategis karbon biru ke dalam perencanaan tata ruang nasional.
Komitmen kedua menargetkan penambahan 700.000 hektare kawasan konservasi laut baru pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari target jangka panjang Indonesia untuk melindungi 30 persen wilayah perairan nasional pada 2045.
Selain memperluas kawasan konservasi, Indonesia juga berkomitmen melakukan evaluasi efektivitas pengelolaan terhadap 19,1 juta hektare kawasan konservasi laut yang telah ada. Evaluasi tersebut bertujuan memastikan manfaat konservasi dapat dirasakan secara nyata, baik bagi lingkungan maupun masyarakat pesisir.
Komitmen keempat adalah pengembangan proyek percontohan karbon biru yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. Program ini diharapkan menjadi model nasional dalam pemanfaatan mangrove, padang lamun, dan ekosistem pesisir lainnya sebagai penyerap karbon alami yang berkontribusi pada upaya global menekan emisi.
Menurut Trenggono, tantangan kelautan tidak mengenal batas negara sehingga membutuhkan kolaborasi internasional yang lebih kuat.
“Kami siap memperdalam kemitraan dengan negara sahabat, organisasi internasional, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi dari komitmen menuju implementasi nyata demi menjaga laut tetap sehat dan produktif bagi generasi mendatang,” katanya.
Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam forum OOC sejak 2016 dan pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi tersebut pada 2018. Saat itu, Indonesia menyampaikan 23 komitmen perlindungan laut dengan nilai mencapai sekitar US$500 juta.
Dalam sembilan tahun terakhir, Indonesia telah menyampaikan 73 komitmen di forum OOC, menjadikannya salah satu negara paling aktif dalam mendorong agenda konservasi laut dan ekonomi biru di tingkat global.
Dengan peluang pendanaan hingga US$260 juta, komitmen terbaru ini menegaskan ambisi Indonesia untuk tidak hanya menjadi negara maritim terbesar di kawasan, tetapi juga pemain kunci dalam upaya global menjaga kesehatan laut di tengah krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. (TR Network)


Komentar