News
Beranda / News / Australia dan Chile Bergerak di Indonesia Bangun Aliansi Iklim dan Riset

Australia dan Chile Bergerak di Indonesia Bangun Aliansi Iklim dan Riset

Environmental, Social and Governance (ESG). Arsip

JAKARTA – Indonesia semakin menjadi magnet baru dalam peta diplomasi iklim dan inovasi global.

Dalam pekan yang sama, Australia dan Chile memperkuat langkah strategis mereka di Indonesia melalui kemitraan teknologi hijau, riset perubahan iklim, hingga penelitian Antarktika yang dinilai akan memainkan peran penting dalam menentukan arah masa depan planet ini.

Di Jakarta, sejumlah perusahaan teknologi scaleups asal Australia memamerkan berbagai solusi iklim dan keberlanjutan dalam ajang Global Sustainable Development Congress 2026. Kehadiran mereka bukan hanya mencari peluang bisnis semata, melainkan menjajaki kemitraan strategis untuk mendukung ambisi Indonesia mencapai target net zero emissions pada 2060.

Perusahaan-perusahaan tersebut membawa teknologi mutakhir di bidang carbon accounting, pelaporan Environmental, Social and Governance (ESG), pemantauan keanekaragaman hayati, optimalisasi rantai pasok berkelanjutan, hingga sistem pembayaran yang berorientasi pada aksi iklim.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menegaskan bahwa transisi energi hijau kini menjadi agenda prioritas bersama kedua negara.

AKSI IKLIM: Anak Muda Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi

“Australia dan Indonesia adalah tetangga dekat, sahabat, serta mitra. Transisi energi hijau menjadi prioritas bagi kedua negara, dan kami telah membangun fondasi yang kuat untuk kerja sama jangka panjang,” ujarnya melalui keterangan resmi pada 23 Juni.

Melalui program Landing Pad yang dijalankan Australian Trade and Investment Commission (Austrade), tujuh perusahaan teknologi Australia menjajaki berbagai peluang kolaborasi dengan mitra Indonesia.

Program tersebut dirancang untuk membantu perusahaan teknologi Australia berekspansi ke pasar internasional sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi hijau di Asia Tenggara.

Head of Austrade untuk Asia Tenggara, Catherine Gallagher, mengatakan kemampuan Australia di bidang ESG, pasar karbon, natural capital, dan pembiayaan berkelanjutan dapat menjadi katalis percepatan transformasi ekonomi hijau Indonesia.

“Kami menyelaraskan keahlian Australia dengan prioritas nasional Indonesia untuk mempercepat transisi keberlanjutan. Solusi yang kami bawa sudah siap diterapkan dan siap memasuki pasar,” katanya.

Krisis Iklim Indonesia Kian Nyata: Pekalongan Tenggelam, Kopi Toraja Terancam

Sementara itu di Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kedutaan Besar Chile membuka babak baru kerja sama ilmiah yang berfokus pada penelitian Antarktika dan perubahan iklim. Kolaborasi ini dinilai strategis karena Antarktika kini menjadi salah satu pusat perhatian dunia dalam memahami dampak pemanasan global.

Pertemuan antara pimpinan UGM dan Duta Besar Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, Mario Ignacio Artaza, menghasilkan komitmen untuk memperluas kerja sama akademik dan penelitian dengan berbagai institusi terkemuka di Chile, termasuk Chilean Antarctic Institute (INACH), Universidad de Magallanes, Instituto Milenio BASE, dan Universidad de Chile.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Danang Sri Hadmoko, menilai kerja sama tersebut dapat membuka jalan bagi Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar dalam diplomasi ilmiah global, khususnya terkait sistem perjanjian Antarktika atau Antarctic Treaty System (ATS).

Menurutnya, Antarktika bukan sekadar wilayah penelitian ilmiah, tetapi juga kawasan strategis yang menjadi laboratorium alam dunia untuk memahami perubahan iklim, keberlanjutan lingkungan, dan masa depan bumi.

“Partisipasi Indonesia dalam isu-isu Antarktika menjadi penting untuk memperkuat posisi negara dalam kerja sama ilmiah internasional dan diplomasi global,” ujarnya.

Indonesia Bidik Dana Global US$260 Juta untuk Konservasi Laut

Selain penelitian kutub, kedua pihak juga melihat peluang besar untuk memperluas kerja sama pada bidang pertanian, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan, kelautan, perikanan, mitigasi bencana, hingga vulkanologi.

Chile dan Indonesia memiliki kesamaan sebagai negara yang berada di jalur cincin api dunia (Ring of Fire), sehingga kolaborasi riset mengenai aktivitas vulkanik, sistem pemantauan gunung api, energi panas bumi, dan mitigasi bencana geologi dinilai sangat potensial.

Duta Besar Chile Mario Artaza menegaskan bahwa Kota Punta Arenas di Chile merupakan salah satu gerbang utama menuju Antarktika dan memiliki infrastruktur penelitian yang berkembang pesat. Posisi tersebut menjadikan Chile mitra strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan keterlibatan dalam berbagai aktivitas ilmiah di kawasan kutub selatan.

Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim global, langkah Australia dan Chile menunjukkan bahwa Indonesia kini tidak hanya dipandang sebagai pasar ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga sebagai mitra penting dalam perlombaan global membangun teknologi hijau, memperkuat riset iklim, dan mencari solusi atas krisis lingkungan yang semakin mendesak.

Ketika dunia berlomba mengejar target net zero dan memahami dampak perubahan iklim dari tropis hingga kutub, Indonesia semakin berada di pusat percaturan baru yang menghubungkan inovasi, sains, dan diplomasi hijau lintas benua. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *