Riset
Beranda / Riset / Dieng Tak Aman Lagi: Studi BRIN Bongkar Ancaman Racun Tersembunyi di Kawasan Geotermal

Dieng Tak Aman Lagi: Studi BRIN Bongkar Ancaman Racun Tersembunyi di Kawasan Geotermal

Kawasan geotermal Dataran Tinggi Dieng. Arsip BRIN

BANDUNG — Potensi energi panas bumi Indonesia kembali mendapat sorotan serius. Namun kali ini, bukan soal listrik ramah lingkungan, melainkan ancaman tersembunyi bagi kesehatan manusia.

Studi terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkap adanya paparan unsur toksik berbahaya di kawasan geotermal Dataran Tinggi Dieng yang selama ini dikenal sebagai lumbung energi masa depan.

Penelitian yang dipaparkan dalam webinar DIGDAYA #21 oleh peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Riostantieka Mayandari Soedarto, membuka perspektif baru: geotermal bukan hanya soal energi, tetapi juga jalur penyebaran racun alami dari dalam bumi ke lingkungan hidup manusia.

Dalam kajian bertajuk “Bumi, Air, Manusia: Perspektif Geotermal-Geodermis dari Dieng”, ia menegaskan bahwa lanskap vulkanik aktif seperti Dieng menyimpan risiko paparan geogenik—unsur kimia berbahaya yang bergerak melalui air, tanah, debu, hingga tanaman, dan akhirnya masuk ke rantai kehidupan manusia.

Sebagai lokasi studi, Dieng dinilai sangat krusial. Kawasan ini memiliki sistem geotermal aktif yang berdekatan langsung dengan sumber air, lahan pertanian, hingga permukiman warga. Artinya, interaksi antara aktivitas alam dan kehidupan manusia terjadi tanpa sekat.

Membaca Jejak Sedimen Mangrove Jembrana untuk Masa Depan Iklim

“Dieng bukan hanya energy landscape, tapi juga environmental exposure landscape—ruang hidup yang rentan terhadap paparan unsur berbahaya,” ujar Riostantieka, Rabu (22/4/2026).

Fokus penelitian diarahkan pada salah satu titik paling aktif, yakni Kawah Sileri.

Dari hasil pengukuran di 81 titik sampel, ditemukan sejumlah unsur toksik prioritas seperti arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timbal (Pb) dalam kadar yang mengkhawatirkan.

Hasilnya mencengangkan. Konsentrasi arsenik di wilayah Sileri Barat tercatat mencapai 94 kali lipat di atas standar air minum WHO.

Pada media tanah, angkanya bahkan melonjak hingga 562 kali dibanding standar pembanding US EPA. Unsur lain seperti kromium tercatat 157 kali lipat, sementara kadmium dan antimoni juga melampaui ambang batas internasional.

Uni Eropa Gandeng Ramengvrl Gaungkan Energi Bersih di Indonesia

Temuan ini mengindikasikan potensi risiko kesehatan jangka panjang, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada air tanah dan hasil pertanian lokal.

Penelitian dilakukan pada Agustus–September 2025, sekitar delapan bulan pasca erupsi Sileri pada 18 Desember 2024. Metode yang digunakan mencakup pengukuran lapangan dengan teknologi portable XRF, analisis kadar air tanah, serta koreksi berbasis berat kering untuk memastikan akurasi data.

Lebih jauh, BRIN menegaskan bahwa riset ini tidak berhenti pada identifikasi bahaya. Pendekatan yang diusung bergerak dari evidence ke action, mulai dari pemetaan sebaran racun, identifikasi titik rawan (hotspot), hingga penyusunan strategi mitigasi dan komunikasi risiko kepada masyarakat.

Kepala PRSDG BRIN, Iwan Setiawan, menekankan bahwa temuan ini harus menjadi alarm bagi pengambil kebijakan.

Menurutnya, pengembangan energi panas bumi harus diimbangi dengan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Maluku Utara: Surga Genetik yang Terlupakan

Momentum Hari Bumi, kata dia, menjadi pengingat penting bahwa eksploitasi sumber daya alam—termasuk geotermal—tidak boleh mengabaikan aspek keberlanjutan.

“Geosains harus hadir untuk masyarakat. Tidak cukup bicara energi dan reservoir, tetapi juga bagaimana melindungi manusia dari risiko yang mungkin muncul,” tegasnya.

Studi ini membuka babak baru dalam pengelolaan energi panas bumi di Indonesia—bahwa di balik potensi besar, tersimpan ancaman yang tak bisa lagi diabaikan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *