Site icon Tropis.id

Dunia Hadapi Krisis Air: Korea Selatan Mulai Pacu Industri Desalinasi Air Laut

Industri Desalinasi Air Laut. Arsip

SEOUL – Dunia sedang menuju krisis air yang makin tak terbendung, dan Korea Selatan tak mau hanya jadi penonton.

Negara ini mulai bergerak membangun kekuatan baru: industri desalinasi air laut untuk menguasai pasar global sekaligus menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat perubahan iklim.

Pemerintah Korea Selatan resmi membentuk koalisi nasional yang melibatkan sektor publik dan swasta guna mempercepat pengembangan teknologi pengolahan air laut.

Langkah ini tidak hanya proyek lingkungan semata, melainkan strategi besar untuk masuk dalam persaingan industri global bernilai ratusan triliun rupiah.

Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan menyatukan lembaga pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri dalam satu ekosistem terintegrasi. Sekitar 30 institusi akan terlibat untuk memperkuat inovasi teknologi sekaligus memperluas ekspansi ke pasar internasional.

Perang di Teluk Persia Mengancam Kepunahan Ribuan Spesies Laut

Alarm Bahaya: Dunia Terancam Kekurangan Air

Kebijakan agresif ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap ketahanan air. Perubahan iklim memperparah kekeringan, merusak siklus hidrologi, dan mengancam pasokan air bersih di berbagai negara.

Desalinasi—teknologi yang mengubah air laut menjadi air tawar—kini menjadi solusi kunci, terutama bagi kawasan kering seperti Timur Tengah dan sebagian Asia. Ketergantungan pada teknologi ini bahkan sudah menjadi tulang punggung kehidupan di negara-negara Teluk.

Dari Tertinggal ke Penantang Baru

Dulu, industri desalinasi Korea Selatan sempat tersendat akibat biaya tinggi dan pasar domestik yang terbatas. Namun kini situasinya berubah drastis.

Peralihan global dari metode penguapan energi tinggi ke teknologi Reverse Osmosis (RO) yang lebih hemat energi menjadi peluang emas. Sistem ini menggunakan membran canggih untuk menyaring garam dari air laut dengan biaya operasional jauh lebih rendah.

Untuk mempercepat lompatan, Korea Selatan juga membangun proyek raksasa di dalam negeri. Salah satunya adalah pabrik desalinasi di Daesan yang mampu memproduksi hingga 100.000 ton air tawar per hari, dan digadang-gadang menjadi yang terbesar di negara tersebut.

Investasi China di Industri Nikel Indonesia Picu Kerusakan Lingkungan Skala Besar

Pasar Raksasa: Triliunan Rupiah Diperebutkan

Industri desalinasi global kini menjelma menjadi “ladang emas” baru. Nilainya mencapai sekitar Rp368,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan melonjak hingga Rp985,8 triliun pada 2033, dengan pertumbuhan lebih dari 11 persen per tahun.

Permintaan terbesar datang dari wilayah kering seperti Timur Tengah dan Afrika Utara, namun kini mulai merambah Amerika Utara, Australia, hingga Asia Selatan—wilayah yang mulai dihantui kekeringan panjang dan krisis air tanah.

Tak hanya itu, tren baru juga mulai mengarah pada penggunaan energi terbarukan untuk menekan biaya dan emisi, menjadikan industri ini semakin strategis dalam era transisi energi.

Taruhan Masa Depan: Air Jadi “Minyak Baru”

Korea Selatan melihat desalinasi tidak hanya solusi krisis, tetapi peluang geopolitik dan ekonomi. Air bersih diprediksi akan menjadi komoditas paling krusial di masa depan—bahkan disebut-sebut sebagai “minyak baru”.

Dengan strategi agresif ini, Korea Selatan bersiap mengambil peran utama dalam industri yang akan menentukan nasib miliaran manusia di tengah krisis iklim global. (TR Network)

PBB: Ketimpangan Gender Memperparah Krisis Air Secara Global

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version