JAKARTA – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran bukan hanya mengguncang geopolitik global, tetapi juga memicu krisis lingkungan yang mengancam ribuan spesies laut di Teluk Persia.
Spesies dugong hingga penyu kini berada di garis depan kepunahan.
Wilayah Teluk Persia yang dikenal sebagai salah satu ekosistem laut paling kaya di dunia kini berubah menjadi zona rawan bencana ekologis. Bahkan sebelum konflik pecah pada akhir Februari 2026, kawasan ini sudah tertekan oleh perubahan iklim dan padatnya lalu lintas kapal.
Kini, situasinya memburuk drastis.
Dugong, Paus, dan Penyu Terjebak di Zona Perang
Menurut laporan Conflict and Environment Observatory (CEOBS), lebih dari 300 insiden berisiko lingkungan telah terjadi sejak konflik dimulai, termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak.
Teluk Persia sendiri memiliki karakter unik: perairannya dangkal dengan kedalaman rata-rata hanya sekitar 50 meter. Sirkulasi airnya sangat lambat, membutuhkan waktu hingga 2–5 tahun untuk memperbarui diri.
Artinya, sekali tercemar, dampaknya bisa bertahan lama dan menghancurkan ekosistem secara permanen.
Di perairan ini hidup sekitar 5.000–7.500 dugong, mamalia laut yang dikenal sebagai “sapi laut” dan berstatus rentan punah. Selain itu, terdapat sedikitnya 12 spesies mamalia laut lain, termasuk paus bungkuk dan hiu paus.
Tak kalah mengkhawatirkan, ada lebih dari 2.000 spesies laut, 500 jenis ikan, serta lima spesies penyu, termasuk penyu sisik (hawksbill turtle) yang berstatus sangat terancam punah.
Ekosistem penting seperti terumbu karang, mangrove, dan padang lamun—yang menjadi habitat utama dugong dan penyu—kini berada di ambang kehancuran.
“Bom Waktu Ekologis” Mengintai
Organisasi lingkungan Greenpeace memperingatkan adanya “bom waktu ekologis” di kawasan ini.
Puluhan kapal tanker yang membawa sekitar 21 miliar liter minyak kini terjebak di Teluk Persia. Jika terjadi kebocoran atau serangan, tumpahan minyak dalam skala besar hampir tak terhindarkan—dan dampaknya bisa memusnahkan kehidupan laut dalam waktu singkat.
Sejak awal Maret 2026 saja, sudah tercatat sembilan insiden yang melibatkan kapal tanker, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), dengan sebagian besar telah dikonfirmasi oleh International Maritime Organization (IMO).
Dampak Meluas: Dari Laut hingga Daratan
Kerusakan lingkungan tak hanya terjadi di laut. Serangan terhadap depot bahan bakar di Teheran juga memicu pencemaran tanah dan air.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menyebut kondisi ini sebagai “ecocide”—kejahatan terhadap lingkungan dalam skala besar.
Jika konflik terus berlanjut, Teluk Persia bukan hanya akan menjadi pusat perang energi dunia, tetapi juga kuburan massal bagi keanekaragaman hayati laut. (TR Network)
