JAKARTA — Dunia tengah menghadapi ironi kemanusiaan yang kian telanjang. Saat lebih dari 735 juta orang masih hidup dalam kelaparan kronis, jutaan ton makanan justru berakhir sebagai sampah setiap tahun.
Indonesia, negeri dengan kekayaan pangan melimpah namun masih dibelit stunting, gizi buruk, dan ketahanan pangan rapuh, berada di episentrum paradoks tersebut.
Di Indonesia, setidaknya 23 hingga 48 juta ton makanan terbuang setiap tahun dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Angka itu menempatkan Indonesia sebagai penyumbang limbah makanan terbesar kedua di Asia.
“Setiap tahun, 23 sampai 48 juta ton makanan di Indonesia berakhir sebagai sampah. Ini terjadi di tengah kenyataan bahwa kita masih berjuang melawan stunting dan kekurangan gizi,” ujar Ray Wagiu Basrowi, Sekretaris Jenderal Indonesian Gastronomy Community (IGC) dikutip Rabu (11/2/2026).
Data Terbaru: Limbah Makanan Dominasi Sampah Nasional
Merujuk data terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), limbah makanan masih menjadi kontributor terbesar sampah nasional, dengan proporsi sekitar 40 persen dari total timbulan sampah Indonesia.
Dengan timbulan sampah nasional yang telah melampaui 65 juta ton per tahun, maka limbah makanan diperkirakan menyentuh lebih dari 25 juta ton per tahun—angka yang konsisten dengan temuan Bappenas dan FAO.
Sebelumnya, Bappenas (2021) mencatat total food loss dan food waste Indonesia periode 2000–2019 berada di kisaran 23–48 juta ton per tahun, atau setara 115–184 kilogram per kapita per tahun.
Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Boros Pangan
Penelitian Barilla Center for Food & Nutrition menempatkan Indonesia dalam kategori buruk untuk indeks kehilangan dan kemubaziran pangan.
Rata-rata, masyarakat Indonesia membuang hingga 300 kilogram makanan per orang per tahun, menempatkan Indonesia dalam tiga besar negara dengan pemborosan pangan terburuk di dunia, sejajar dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Ancaman Iklim: Sampah Makanan Setara Emisi Transportasi Global
Masalah limbah makanan bukan sekadar isu etika dan keadilan pangan, tetapi juga bom waktu lingkungan.
Mengacu pada data FAO, sekitar 8–10 persen emisi gas rumah kaca global berasal dari limbah makanan—angka yang setara dengan total emisi sektor transportasi dunia.
“Sisa makanan bukan hanya kehilangan nilai ekonomi, tapi juga mempercepat krisis iklim,” tegas Ray, yang juga pendiri Health Collaborative Center (HCC).
Gerakan Zero Food Waste Dimulai dari Piring Sendiri
Sebagai respons, IGC menyerukan tiga langkah konkret kepada masyarakat dan industri pangan:
1. Ambil makanan secukupnya
2. Habiskan makanan hingga tuntas
3. Mulai perubahan dari piring sendiri
Ray juga mengajak publik untuk mendukung restoran dan pelaku kuliner yang menerapkan prinsip zero food waste, serta mengubah pola konsumsi menuju makan sehat dan berkelanjutan.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis, menegaskan kembali bahwa Indonesia berada di posisi kritis dalam persoalan sampah makanan.
Secara global, FAO mencatat lebih dari 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun, setara dengan sepertiga total produksi pangan dunia.
Dukungan Negara dan Tokoh Publik
Komitmen bersama ini turut ditandatangani oleh Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, Ketua IGC Ria Musiawan, serta didukung tokoh nasional seperti Prof. Nila F Moeloek, Ninuk Pambudy, dan Chef William Wongso.
Pembina IGC Ninuk Pambudy menegaskan gerakan ini sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan, pengurangan food loss and waste, serta promosi gastronomi berkelanjutan sebagai fondasi peradaban Indonesia modern.
Kampanye ini juga mendorong pelaku industri kuliner—restoran, hotel, UMKM, chef, hingga food content creator—untuk mengedepankan pangan lokal dan menerapkan konsep root-to-stem serta nose-to-tail, sekaligus mengedukasi konsumen lewat praktik nyata.
Indonesia tidak kekurangan makanan. Yang kita kekurangan adalah kesadaran dan sistem yang adil. (TR Network)


Komentar