JAKARTA — Ancaman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Pulau Sumatera menjelang arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriah.
Pasalnya, sebanyak 49 titik panas (hotspot) terdeteksi di Provinsi Riau, memicu langkah cepat pemerintah untuk mencegah gangguan terhadap jalur mudik lintas Sumatera.
Kementerian Kehutanan langsung mengerahkan tim pemadam elit Manggala Agni guna memastikan arus perjalanan pemudik tetap aman dari potensi kabut asap yang kerap muncul akibat kebakaran lahan gambut.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, Thomas Nifinluri, mengatakan tiga regu Manggala Agni telah diturunkan untuk menangani kebakaran di wilayah Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir.
Tim tersebut merupakan gabungan dari beberapa daerah operasi, yakni Daops Manggala Agni Sumatera VI/Siak, Daops Sumatera II/Labuhanbatu Selatan, serta satu regu dari Daops Sumatera V/Dumai.
Menurut Thomas, upaya pemadaman mulai menunjukkan hasil positif. Kondisi di lapangan berangsur membaik sehingga jalur lintas Riau menuju Sumatera Utara dapat dilalui tanpa gangguan asap.
Hotspot Tersebar di Empat Wilayah
Berdasarkan pemantauan sistem SiPongi yang menggunakan data satelit NASA Terra/Aqua hingga 15 Maret 2026, total 49 titik panas terdeteksi di Provinsi Riau.
Sebarannya meliputi:
– Kabupaten Pelalawan: 42 titik
– Kota Dumai: 4 titik
– Kabupaten Indragiri Hilir: 2 titik
– Kabupaten Kampar: 1 titik
“Seiring dengan terdeteksinya hotspot di sejumlah lokasi, Manggala Agni bersama pihak terkait di daerah terus melakukan penanganan,” kata Thomas, Senin (16/3/2026).
Sepanjang 1–15 Maret 2026, tercatat 48 operasi pemadaman telah dilakukan. Operasi tersebut berhasil menangani kebakaran di area seluas 78,2 hektare yang tersebar di Dumai, Bengkalis, Pelalawan, Rokan Hilir, Indragiri Hilir, dan Kampar.
Helikopter Dikerahkan, Patroli Udara Dimulai
Selain operasi darat, pemerintah juga memperkuat pengawasan dari udara untuk mempercepat deteksi dini kebakaran.
Sebuah helikopter patroli udara jenis Bell kini sedang menuju Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, yang akan menjadi pusat operasi pemantauan wilayah rawan karhutla di Riau.
Patroli udara direncanakan berlangsung hingga akhir April 2026 dengan total waktu operasi sekitar 65 jam terbang.
Tim patroli udara ini melibatkan berbagai unsur, antara lain: Kementerian Kehutanan, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Basarnas, TNI Angkatan Udara dan Pemerintah Provinsi Riau.
Patroli akan dilakukan secara terjadwal untuk memperkuat sistem pemantauan sekaligus mempercepat respons jika muncul titik api baru.
Jalur Mudik Jadi Prioritas
Langkah cepat pengendalian karhutla ini dilakukan karena Riau merupakan salah satu jalur utama mudik lintas Sumatera.
Kabut asap yang muncul akibat kebakaran lahan kerap mengganggu jarak pandang dan berpotensi membahayakan perjalanan.
Karena itu, pemerintah berupaya memastikan jalur transportasi tetap aman selama mobilitas jutaan pemudik menuju kampung halaman pada musim Lebaran tahun ini.
Dengan kombinasi operasi darat, patroli udara, dan pemantauan satelit, pemerintah berharap potensi kebakaran dapat ditekan sejak dini sehingga arus mudik di Sumatera tidak terganggu oleh krisis asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. (TR Network)
