YOGYAKARTA – Riset terbaru mengungkap bahwa pertanian kota (urban farming) ternyata tidak hanya menjadi tren berkebun di perkotaan.
Di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT), praktik ini terbukti menjadi strategi nyata untuk menekan risiko stunting melalui penguatan ketahanan pangan keluarga dan perbaikan gizi balita.
Temuan tersebut merupakan hasil riset kolaborasi multidisiplin antara Pusat Riset Kependudukan dan Pusat Riset Wilayah BRIN, bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sriwijaya (UNSRI).
Penelitian ini memetakan bagaimana inovasi sosial berbasis komunitas mampu mengubah urban farming menjadi instrumen efektif dalam mitigasi stunting.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ade Latifa, menegaskan bahwa penelitian ini bukan sekadar kajian pertanian perkotaan. Riset tersebut menyoroti bagaimana kekuatan komunitas perempuan menjadi kunci keberhasilan program.
“Kami melihat KWT bertransformasi menjadi semacam laboratorium sosial. Inovasi sebenarnya bukan hanya pada apa yang ditanam, tetapi bagaimana perempuan di komunitas mengelola partisipasi, memperkuat solidaritas sosial, dan menghubungkan hasil panen dengan kebutuhan gizi balita di lingkungan mereka,” ujar Ade, dikutip Senin (17/3/2026).
Penelitian yang didukung skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Discover Food (2026) dengan judul “The potential role of farmer women’s groups as community-based urban farming in addressing the risk of stunting.”
Publikasi ini sekaligus memperkuat posisi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai penggerak kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di Indonesia.
Dari sisi kewilayahan, riset juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi di lahan perkotaan yang terbatas.
Peneliti Pusat Riset Wilayah BRIN, Lamijo, menjelaskan bahwa inovasi seperti Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) menjadi solusi teknis yang efektif untuk kota dengan ruang sempit seperti Bandung dan Denpasar.
“Teknologi inklusif seperti Budikdamber memungkinkan rumah tangga memproduksi protein hewani sekaligus mikronutrien dari ruang yang sangat terbatas. Ini contoh nyata bagaimana riset BRIN menghasilkan teknologi tepat guna yang murah dan aplikatif bagi masyarakat,” kata Lamijo.
Hasil penelitian tersebut juga mengidentifikasi empat prasyarat utama keberhasilan urban farming dalam menekan risiko stunting, yaitu:
– Partisipasi aktif komunitas, khususnya kelompok perempuan.
– Kolaborasi dengan kader kesehatan dalam program penurunan stunting.
– Penguatan solidaritas sosial di tingkat komunitas.
– Praktik pencegahan risiko gizi secara langsung melalui produksi pangan lokal.
Data lapangan menunjukkan bahwa wilayah yang mengintegrasikan kebijakan pangan kota dengan gerakan urban farming komunitas mengalami penurunan risiko stunting yang signifikan.
Sebagai lembaga riset dan inovasi nasional, BRIN menilai kolaborasi dengan para akademisi seperti Sri Rum Giyarsih (UGM) dan Apit Fathurohman (UNSRI) sebagai rujukan strategis bagi kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pangan dan kesehatan masyarakat.
Melalui pendanaan RIIM, BRIN menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan riset yang berorientasi pada solusi nyata, sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045 yang bebas stunting melalui inovasi berbasis komunitas dan ketahanan pangan perkotaan. (TR Network)
