News
Beranda / News / Karhutla Mulai Melanda Kalimantan Barat

Karhutla Mulai Melanda Kalimantan Barat

Tim Manggala Agni saat melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat. Foto Kemenhut

PONTIANAK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Kalimantan Barat.

Dalam rentang waktu 28 Februari hingga 6 Maret 2026, api melalap wilayah di lima desa dengan total luas kebakaran mencapai sekitar 17 hektar. Peristiwa ini menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman karhutla menjelang musim kemarau.

Kepala Seksi Wilayah II Pontianak Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan, Sahat Irawan Manik, mengungkapkan bahwa kebakaran terjadi di sejumlah desa di Kabupaten Kubu Raya.

Rinciannya meliputi Desa Rasau Jaya Umum seluas 3 hektar dan 2 hektar, Desa Rasau Jaya Tiga seluas 4,5 hektar, serta Desa Limbung dengan total sekitar 8,3 hektar.

Menurut Sahat, wilayah Kalimantan Barat—khususnya Kabupaten Kubu Raya—saat ini masuk kategori rawan kebakaran. Hal itu dipicu meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) serta potensi kekeringan yang mulai terasa menjelang musim kemarau.

814 Lubang Tambang Menganga di Kalsel, 20 Nyawa Sudah Melayang

“Wilayah Kalimantan Barat, khususnya Kubu Raya, menjadi daerah rawan karhutla seiring meningkatnya jumlah titik panas serta potensi kekeringan,” ujar Sahat dalam keterangannya, Sabtu (7/3/2026).

Petugas gabungan melakukan upaya pemadaman sejak pagi hingga malam hari. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pengendalian api, terutama pada titik kebakaran yang berdekatan dengan permukiman warga.

Tim Manggala Agni juga telah melakukan proses mopping up untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa, terutama di Desa Rasau Jaya Tiga dan Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya.

Tahapan ini menandakan situasi kebakaran mulai terkendali dan dalam waktu dekat diharapkan dapat dinyatakan benar-benar padam.

Untuk mencegah kebakaran lanjutan, patroli lapangan kini digencarkan. Patroli ini bertujuan mendeteksi potensi kebakaran sejak dini, memperkuat koordinasi antarinstansi, serta mempercepat arus informasi dari masyarakat agar respons penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Bom Waktu Bantargebang: Waspadai Ledakan Gas Metana dan Racun

Selain itu, petugas juga memeriksa kondisi bahan bakar alami di lahan, memetakan potensi sumber air, serta memantau isu-isu kebakaran yang berkembang di masyarakat.

Data pemantauan hotspot sepanjang 2026 di Kabupaten Kubu Raya menunjukkan adanya peningkatan jumlah dan sebaran titik panas.

Hasil analisis Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) dari BMKG juga mengindikasikan meningkatnya tingkat kerawanan kebakaran di wilayah tersebut.

Sahat menegaskan pihaknya akan terus bergerak cepat bersama berbagai pihak untuk menuntaskan pemadaman sekaligus mencegah kebakaran baru.

“Manggala Agni Balai Dalkarhut Wilayah Kalimantan berkomitmen untuk terus bergerak cepat dan bersinergi dengan semua pihak guna menuntaskan pemadaman karhutla serta mencegah kebakaran lanjutan,” ujarnya.

10.000 Liter Eco Enzyme Dituang ke Sungai Cisadane

Ancaman Karhutla Saat Musim Kemarau

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, sebelumnya memperingatkan bahwa musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada April 2026.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang memiliki lahan gambut.

“Kita harus bersiap karena tantangan karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering,” kata Faisal.

Sejak awal 2026, sejumlah kebakaran juga tercatat terjadi di berbagai wilayah. Di antaranya kebakaran lahan di Desa Teluk Beringin, Pulau Mendol, Kecamatan Kuala Kampar, Riau, pada Februari lalu.

Kebakaran juga melanda Desa Sepahat di Kabupaten Bengkalis seluas sekitar 10 hektar, serta beberapa wilayah lain di Riau seperti Desa Sukarjo Mesim di Kecamatan Rupat dan Desa Gambut Mutiara di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan.

Mengantisipasi situasi tersebut, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Langkah ini bertujuan menurunkan hujan lebih awal untuk membasahi lahan gambut agar tetap jenuh air sebelum puncak musim kemarau datang. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *