JAKARTA – Baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat langsung memasang target besar: menuntaskan persoalan sampah nasional dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Usai pelantikan di Istana Negara pada 27 April 2026, Jumhur menegaskan bahwa isu pengelolaan sampah menjadi pekerjaan paling mendesak yang harus segera dibenahi.
Ia menyebut, Indonesia akan bergerak mengikuti standar global dan berbagai perjanjian internasional terkait lingkungan.
“Pasti banyak hal yang harus dilakukan, misalnya sampah. Kita akan bertahap mengikuti global standard,” ujarnya.
Tak sekadar wacana, Jumhur bahkan mematok tenggat waktu yang cukup berani dengan menargetkan persoalan pengelolaan sampah di Indonesia bisa diselesaikan pada 2028.
Target ini, menurutnya, realistis karena didukung komitmen kuat Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan isu sampah sebagai prioritas nasional lintas kementerian.
“Semua akan bekerja ke arah solusi. Bukan hanya Kementerian Lingkungan Hidup, tapi semua pihak,” tegasnya.
Dorong Inovasi hingga Energi Alternatif
Dalam strategi awalnya, Jumhur menaruh perhatian besar pada inovasi pengolahan sampah berbasis masyarakat. Salah satu yang disorot adalah teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yang mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif hingga produk turunan seperti genteng dan paving block.
Ia memastikan pemerintah akan membuka ruang seluas-luasnya bagi ide dan inovasi publik. Dukungan akan diberikan agar berbagai inisiatif pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar diimplementasikan secara masif.
“Kita dorong semua gerakan masyarakat. Pemerintah akan hadir untuk memastikan itu bisa menjadi kenyataan,” katanya.
Bangun “Habit of Heart” Lingkungan
Di luar aspek teknis, Jumhur juga menekankan pentingnya perubahan budaya.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai kebiasaan hidup sehari-hari—bukan sebagai kewajiban formal.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kebijakan dan teknologi, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat.
“Lingkungan hidup harus menjadi habit of our heart. Kalau itu terjadi, dampaknya akan jauh lebih baik ke depan,” ujarnya.
Dengan kombinasi target ambisius, dorongan inovasi, dan perubahan perilaku publik, langkah awal Mohammad Jumhur Hidayat ini menjadi penentu arah baru kebijakan lingkungan di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Tantangannya jelas: mampukah janji besar ini benar-benar diwujudkan dalam waktu singkat? (TR Network)

Komentar