JAKARTA – Pemanasan global tidak hanya mengubah suhu di permukaan laut, tetapi juga mulai merambat jauh hingga kedalaman samudra.
Fenomena gelombang panas laut kini diketahui mampu menembus hingga lebih dari 1.000 meter di bawah permukaan, mengancam keseimbangan kimia dan biologis ekosistem laut yang sangat rapuh.
Namun di tengah ancaman tersebut, para ilmuwan menemukan secercah harapan dari makhluk yang hampir tak terlihat: mikroba laut dalam.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengungkap bahwa mikroba Nitrosopumilus maritimus kemungkinan telah beradaptasi dengan kondisi laut yang semakin hangat dan miskin nutrisi.
Mikroorganisme ini bahkan diprediksi akan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan nutrisi laut di tengah krisis iklim global.
Mikroba Kunci Kehidupan Laut
Melansir Phys.org, mikroba Nitrosopumilus maritimus dan kerabatnya sangat melimpah di samudra. Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dari total plankton di laut.
Para ilmuwan menyebut mikroba ini sebagai salah satu “mesin kimia” utama lautan. Mereka berperan dalam mengolah amonia dan mengubah nitrogen di air laut, sebuah proses vital yang mengatur pertumbuhan plankton.
Plankton sendiri merupakan dasar rantai makanan laut. Artinya, aktivitas mikroba ini secara tidak langsung menentukan kelangsungan hidup berbagai organisme laut—mulai dari ikan kecil hingga predator besar di puncak ekosistem.
Laut Dalam Ternyata Tak Kebal Pemanasan
Profesor mikrobiologi dari University of Illinois Urbana-Champaign, Wei Qin, menjelaskan bahwa selama ini banyak ilmuwan mengira laut dalam relatif aman dari dampak pemanasan global.
Namun temuan terbaru menunjukkan sebaliknya.
“Efek pemanasan laut bisa mencapai kedalaman hingga 1.000 meter atau lebih,” kata Qin.
Pemanasan ini dapat memengaruhi cara mikroba archaea seperti Nitrosopumilus maritimus menggunakan zat besi, unsur logam yang sangat penting bagi proses metabolisme mereka.
Jika ketersediaan zat besi berubah, keseimbangan nutrisi laut juga bisa ikut terganggu.
Justru Semakin Efisien
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menguji mikroba ini di laboratorium dengan berbagai kombinasi suhu air dan ketersediaan zat besi.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Ketika suhu meningkat dan zat besi semakin langka, mikroba tersebut justru menjadi lebih efisien dalam memanfaatkan zat besi yang tersedia.
Adaptasi ini menunjukkan bahwa organisme mikroskopis tersebut memiliki ketahanan luar biasa terhadap perubahan lingkungan.
“Temuan ini menunjukkan mikroba laut memiliki kemampuan adaptasi yang jauh lebih kuat dari yang kita perkirakan,” ujar Qin.
Penelitian Global dan Ekspedisi Laut
Tim peneliti kemudian menggabungkan hasil eksperimen tersebut dengan model kondisi laut global yang dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Liverpool, Alessandro Tagliabue.
Model tersebut menunjukkan bahwa komunitas mikroba di laut dalam kemungkinan tetap mampu mempertahankan bahkan meningkatkan peran mereka dalam siklus nutrisi laut, meskipun suhu bumi terus meningkat dan nutrisi penting menjadi semakin langka.
Untuk menguji temuan tersebut secara langsung di alam, para ilmuwan merencanakan ekspedisi penelitian menggunakan kapal riset Sikuliaq.
Ekspedisi akan berangkat dari Seattle menuju Teluk Alaska, kemudian melintasi pusaran subtropis hingga berakhir di Honolulu, Hawaii. Sekitar 20 peneliti akan bergabung untuk mempelajari bagaimana perubahan suhu dan ketersediaan zat besi memengaruhi kehidupan mikroba laut dalam secara langsung.
Harapan dari Dunia Mikro
Penelitian ini memberi perspektif baru dalam menghadapi krisis iklim global. Di tengah meningkatnya suhu bumi dan perubahan drastis pada ekosistem laut, organisme mikroskopis seperti Nitrosopumilus maritimus ternyata dapat menjadi penjaga tak terlihat yang membantu menjaga keseimbangan kehidupan di samudra.
Dengan kata lain, masa depan ekosistem laut—dan mungkin juga stabilitas iklim global—bisa saja sangat bergantung pada makhluk kecil yang selama ini nyaris luput dari perhatian manusia. (TR Network)


Komentar