Konservasi
Beranda / Konservasi / Invasi Spesies Asing Ancam Kawasan Konservasi di Indonesia

Invasi Spesies Asing Ancam Kawasan Konservasi di Indonesia

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan, rumah bagi kawasan karst terbesar kedua di dunia. Arsip

BOGOR – Ancaman diam-diam terhadap hutan dan satwa liar Indonesia kini semakin nyata.

Spesies asing invasif—organisme yang masuk ke ekosistem baru dan merusak keseimbangan alam—disebut sebagai salah satu penyebab terbesar hilangnya keanekaragaman hayati di dunia.

Merespons ancaman tersebut, Kementerian Kehutanan bersama Food and Agriculture Organization (FAO) resmi meluncurkan proyek senilai Rp74,6 miliar (USD 4,4 juta) untuk memperkuat pengendalian spesies asing invasif di Indonesia. Program ini didukung pendanaan dari Global Environment Facility (GEF).

Spesies asing invasif adalah hewan, tumbuhan, atau organisme lain yang masuk—secara sengaja maupun tidak sengaja—ke lingkungan yang bukan habitat alaminya. Kehadiran mereka dapat mengganggu ekosistem, mengancam spesies asli, bahkan merusak sumber penghidupan masyarakat.

Menurut laporan 2023 dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services, spesies invasif berkontribusi terhadap hingga 60 persen kepunahan tumbuhan dan hewan secara global. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga sangat besar, diperkirakan mencapai lebih dari USD 423 miliar setiap tahun di seluruh dunia.

PLTN Indonesia di Depan Mata, Tapi Ahli Nuklirnya Terbatas

Indonesia sendiri termasuk negara dengan jumlah spesies invasif tertinggi di Asia Tenggara. Data International Union for Conservation of Nature tahun 2015 menunjukkan peningkatan perdagangan, perjalanan, transportasi, serta perubahan penggunaan lahan dan iklim telah mempercepat penyebaran organisme tersebut di berbagai pulau di Indonesia.

Kawasan konservasi menjadi wilayah yang paling rentan. Data tahun 2021 menunjukkan lebih dari setengah dari 54 taman nasional yang dikelola Kementerian Kehutanan telah melaporkan keberadaan spesies asing invasif.

Fokus di Dua Taman Nasional Penting

Proyek bertajuk Strengthening the Management of Invasive Alien Species (SMIAS) ini akan difokuskan pada dua kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, yaitu: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan, kawasan karst terbesar kedua di dunia.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, dalam sambutan yang dibacakan oleh Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Ahmad Munawir, menegaskan proyek ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pengelolaan spesies invasif dari tingkat kebijakan hingga pengelolaan lapangan.

“Proyek SMIAS menjadi ikhtiar strategis untuk memperkuat tata kelola, kapasitas, dan kolaborasi pengelolaan jenis asing invasif. Kedua kawasan memiliki nilai konservasi tinggi namun menghadapi tekanan yang dapat mempercepat penyebaran spesies invasif,” ujarnya dalam lokakarya awal proyek di Bogor, 12 Maret 2026.

Habitat Menyusut, Komodo Butuh Wilayah Baru untuk Bertahan

Libatkan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal

Proyek ini tidak hanya berfokus pada kebijakan, tetapi juga memperkuat koordinasi lintas sektor, pembiayaan konservasi, serta praktik pengelolaan berkelanjutan yang melibatkan Masyarakat Adat dan komunitas lokal, termasuk perempuan dan generasi muda.

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menegaskan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati juga berarti melindungi sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada hutan.

“Dengan melindungi kekayaan hayati Indonesia, proyek ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada hutan,” ujarnya.

Target: Tekan Penyebaran Spesies Invasif 50 Persen

Program ini diharapkan meningkatkan ketahanan ekonomi dan produktivitas lebih dari 2.000 orang, terutama masyarakat adat, melalui pemulihan kesehatan ekosistem dan peningkatan ketersediaan produk hutan non-kayu seperti tanaman obat, pakan ternak, dan hasil hutan lainnya.

Selain itu, proyek ini juga mendukung komitmen global Indonesia dalam Convention on Biological Diversity, Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, serta United Nations Sustainable Development Goals (SDGs).

Bumi Makin Menderita: Panas Ekstrem Kini Merampas Waktu Hidup Manusia

Salah satu target utama yang ingin dicapai adalah mengurangi masuk dan penyebaran spesies asing invasif hingga 50 persen pada tahun 2030. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *