BOGOR — Gejolak perang di Timur Tengah mulai menimbulkan efek domino yang mengancam sektor pertanian global. Lonjakan harga energi hingga terganggunya pasokan pupuk kini menghantam langsung petani, termasuk di Indonesia.
Melihat situasi ini, IPB University menawarkan solusi tak biasa: teknologi biointensif, sebuah pendekatan pertanian yang diklaim mampu memangkas ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia di tengah krisis global.
Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB, Ivanovic Agusta, menyebut konflik global telah memicu lonjakan harga BBM yang berdampak luas pada biaya produksi pertanian.
“Ini momentum untuk beralih ke sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya dalam konferensi pers di Bogor, Kamis (2/4).
Krisis Pupuk Global Mulai Mengguncang
Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, mengungkap fakta mencemaskan: kawasan Teluk memasok sekitar 40 persen pupuk nitrogen dunia. Ketika konflik mengganggu pasokan gas alam (LNG), produksi pupuk pun ikut terpukul.
Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor. Tercatat, 42,89 persen bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab—wilayah yang kini menghadapi risiko logistik dan lonjakan biaya pengiriman.
Akibatnya: Harga pupuk nitrogen global melonjak 32,4%, Pestisida diprediksi naik 20–30%, Biaya produksi petani ikut membengkak akibat kenaikan BBM.
Tak hanya itu, ekspor buah Indonesia ke pasar seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga ikut terancam menurun.
Jurus Biointensif: Hemat Biaya, Naik Produksi
Sebagai respons, IPB mendorong penerapan pertanian biointensif, yang terbukti:
– Mengurangi pupuk kimia hingga 30%
– Menekan penggunaan pestisida hingga 70–77%
– Menurunkan biaya produksi sekitar 20%
– Meningkatkan produktivitas hingga 24%
Pendekatan ini mengandalkan: Mikroorganisme tanah (endofit, PGPR, antagonis), Pupuk organik dan alami, Sistem tanam seperti rotasi, tumpang sari, dan pupuk hijau.
Selain itu, petani juga didorong beralih ke energi alternatif seperti biogas, panel surya, hingga biomassa untuk menekan ketergantungan pada BBM.
Uji Lapangan: Hasilnya Lebih Tinggi dari Cara Konvensional
Penerapan teknologi ini di daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, hingga Bojonegoro menunjukkan hasil nyata: produksi meningkat dan biaya menurun dibanding metode konvensional.
Tak hanya efisien, sistem ini juga memiliki jejak karbon rendah dan berbasis bahan lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mendekati 100 persen.
Alarm Ketahanan Pangan Nasional
Di tengah tekanan krisis global, IPB menilai teknologi biointensif bukan sekadar alternatif, tetapi strategi kunci menjaga ketahanan pangan nasional.
Jika ketergantungan pada impor pupuk dan energi tak segera dikurangi, petani Indonesia berisiko menjadi korban berikutnya dari konflik global yang tak mereka kendalikan. (TR Network)

Komentar