BADUNG — Tren minuman modern dan produk kesehatan impor kini menggempur pasar lokal, tetapi sebuah asa sedang dirawat dari jantung Banjar Bedauh, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.
Sentuhan sains dan teknologi mengangkat kembali minuman tradisional “Teh Ong” yang mulai langka ke permukaan sebagai produk probiotik khas Bali yang adaptif terhadap pasar masa kini.
Langkah penyelamatan warisan kultural ini dimotori oleh akademisi dari Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa (Unwar), Ir. I Wayan Sudiarta, MP.
Hilirisasi riset di tingkat tapak diwujudkan bersama tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan (TPHP) Unwar dalam bentuk program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM).
Aktivitas pelatihan riuh mewarnai atmosfer Banjar Bedauh sejak tanggal 6 Juni 2026. Tim pengabdian Unwar menggandeng Kelompok Belajar Usaha (KBU) Sari Nadhi—yang sebagian besar anggotanya merupakan ibu rumah tangga dan petani setempat—untuk mentransformasi metode pembuatan Teh Ong tradisional menjadi lebih higienis, terukur, dan bernilai ekonomi tinggi.
Teh Ong sejatinya memiliki kekayaan kandungan antioksidan dan senyawa bioaktif yang sangat baik untuk tubuh. Proses fermentasi alaminya berpotensi menghasilkan bakteri baik yang mendukung kesehatan pencernaan, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap gaya hidup sehat. Konsumsi yang terbatas dan minimnya standardisasi membuat minuman kaya manfaat ini perlahan terlupakan.
Konsistensi mutu dan masa simpan menjadi tantangan terbesar dari pangan fermentasi tradisional.
Sudiarta, menegaskan pentingnya intervensi ilmiah dalam memotong rantai kelemahan pangan lokal tersebut.
“Kelemahan utama dari minuman fermentasi tradisional yang dikerjakan secara konvensional adalah ketidakpastian mutu. Tanpa adanya standardisasi yang jelas, kualitas produk akan sangat beragam pada tiap produksi dan sangat rentan terhadap kontaminasi mikroba liar yang merugikan. Langkah intervensi teknologi hadir untuk mengunci kualitas tersebut agar produk aman, stabil, dan layak bersaing di pasar modern,” ujar Sudiarta penuh optimism saat dikonfirmasi di pada Jumat (12/6/2026).
Proses fermentasi Teh Ong ditingkatkan menggunakan kultur bakteri probiotik pilihan dalam program pemberdayaan ini. Sentuhan teknologi tepat guna tersebut tidak hanya mengunci cita rasa khasnya yang lezat, tetapi juga melipatgandakan manfaat kesehatan serta memperpanjang umur simpan produk melalui pengemasan modern.
Masyarakat di KBU Sari Nadhi mendapat pelatihan secara bertahap, mulai dari pemilahan bahan baku yang ketat, sterilisasi alat, teknik fermentasi yang higienis, hingga inovasi kemasan botol yang praktis dan menarik.
“Kami tidak mengubah pakem atau merusak nilai luhur tradisinya. Kami justru memperkuatnya dengan sains. Kelompok ibu-ibu di KBU Sari Nadhi kami latih menerapkan metode produksi yang higienis dan modern, bahkan kami membuka ruang bagi pengembangan variasi rasa baru memanfaatkan potensi buah-buahan tropis lokal khas Bali agar segmentasi pasarnya jauh lebih luas,” jelas Sudiarta.
Kehadiran program yang didanai oleh Universitas Warmadewa ini membawa angin segar bagi warga Banjar Bedauh. Keanggotaan di KBU Sari Nadhi yang semula kerap dipandang sekadar pengisi waktu luang kini diarahkan menjadi motor penggerak ekonomi keluarga.
Para ibu tidak hanya dibekali keterampilan teknis pengolahan pangan, melainkan juga diberikan wawasan manajemen kerja, perhitungan usaha, hingga strategi pemasaran.
Potensi geografis Desa Carangsari sebagai daerah tujuan wisata kuliner dan agro menjadi modal utama. Jarak sekitar 27,1 kilometer dari kampus Unwar menjadi letak strategis yang diharapkan mempermudah rantai distribusi, baik dipasarkan secara mandiri di wilayah desa maupun bermitra dengan restoran dan pusat oleh-oleh di Bali.
Program ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan musiman melalui integrasi jangka panjang. Teh Ong berpeluang besar naik kelas menjadi minuman kesehatan premium kebanggaan lokal Bali dengan kualitas yang terstandarisasi melalui pengawasan mikrobiologis berkala.
Upaya dari sudut Desa Carangsari ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal tidak harus runtuh oleh zaman.
Teh Ong menolak punah dan bersiap menyembuhkan tubuh sekaligus menyejahterakan masyarakatnya di tangan komunitas yang berdaya serta bimbingan sains yang tepat. (TR Network)


Komentar