JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Alam Semesta Integra mengembangkan teknologi fotobioreaktor CCUS (Carbon Capture Utilization and Storage) berbasis mikroalga. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi inovatif dalam upaya pengurangan emisi karbon serta mendukung keberlanjutan lingkungan.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air (PRLSDA) BRIN, Luki Subehi dan Direktur PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (10/3).
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan, riset terkait CCUS menjadi salah satu fokus BRIN dalam memanfaatkan biodiversitas Indonesia, salah satunya mikroalga.
“Indonesia kaya akan mikroalga maupun makroalga, di mana pada teknologi CCUS ini, mikroalga akan dimanfaatkan untuk menangkap (capture) gas karbon dioksida (CO₂),” kata Handoko.
Teknologi fotobioreaktor CCUS berbasis mikroalga dirancang sebagai sistem yang relatif murah, ramah lingkungan, serta dapat diimplementasikan dalam skala besar dengan produktivitas biomassa yang tinggi. Biomassa yang dihasilkan tidak hanya berperan dalam mitigasi emisi karbon, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis produk bernilai tinggi di bidang kosmetika, pertanian, dan kesehatan.
“Teknologi ini belum sepenuhnya establish. Meskipun di berbagai belahan dunia banyak dilakukan, tetapi setidaknya kita bisa memulai dari capture dan utilisasi,” tambahnya.
Handoko mengatakan, BRIN hadir tidak tidak hanya untuk riset, tetapi juga menjadi enabler bagi industri untuk masuk ke ranah riset, termasuk riset advance seperti CCUS.
“Kita berupaya memanfaatkan sumber daya alam lokal, khususnya mikroalga yang by nature menyerap karbon dioksida, dan itu akan dioptimalkan. Jadi bisa kita klaimkan untuk carbon asset, carbon accounting. Ini penting bagi Kementerian Lingkungan Hidup, semoga ini bisa menjadi salah satu rencana aksi konkret pada COP (Conference of the Parties) berikutnya,” kata Handoko.
Ketua Tim Peneliti Pengembangan Teknologi Fotobioreaktor Mikroalga PRLSDA BRIN, Awalina Satya menjelaskan, teknologi ini memanfaatkan mikroalga dalam menangkap karbon dioksida. Teknologi ini telah terbukti secara ilmiah meningkatkan efisiensi biosekuestrasi karbon dioksida oleh mikroalga Spirulina platensis, sekaligus mengoptimalkan proses fotosintesis berbasis pada pemilihan strain mikroalga unggul, formulasi medium pertumbuhan, pengendalian faktor irradiance, pH, dan suhu.
Awalina menguraikan, mikroalga dikultivasi dalam suatu wadah tertentu. Wadah ini dioptimasikan konfigurasinya, sehingga memungkinkan mikroalga menyerap karbon dioksida secara optimum.
“Mikroalga sendiri secara inheren mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan biomassa dengan produktivitas 50 kali lebih tinggi dibandingkan tumbuhan darat pada umumnya. Apa lagi ini kita rekayasa agar secara biologis-fisika-kimia bisa menjadi lebih banyak menyerap karbon dioksida, dengan kita atur mediumnya, pemilihan strain mikroalga, intensitas penyinaran, serta sistem perpindahan massa yang berlangsung di dalam reaktor tersebut,” tutur Awalina.
Direktur PT Alam Semesta Integra, Eddy Setiawan mengungkapkan, kerja sama ini bukan sekadar kolaborasi antara lembaga riset dan industri. Tetapi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menciptakan solusi inovatif dalam menghadapi tantangan global, khususnya dalam pengurangan emisi karbon dan penerapan teknologi berbasis berkelanjutan. “Sebagaimana kita ketahui, tantangan emisi karbon semakin mendesak untuk diatasi. Dengan kolaborasi ini, kita berharap dapat menghadirkan teknologi CCUS yang efektif, inovatif, dan dapat diterapkan dalam berbagai sektor industri,” pungkasnya. (TR Network)