JAKARTA — Laut dalam Indonesia yang selama ini dianggap sebagai salah satu wilayah paling minim eksplorasi di kawasan Indo-Pasifik kini mulai terbuka.
Ekspedisi kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan organisasi eksplorasi laut global OceanX berhasil mengungkap 14 spesies megafauna laut sekaligus memetakan gunung bawah laut yang sebelumnya belum terdokumentasi di perairan Sulawesi Utara.
Temuan tersebut diperoleh melalui “OCEANX–BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2” yang berlangsung pada 5–24 Januari 2026. Misi ini menggabungkan riset biodiversitas, oseanografi, pengamatan laut lepas, serta kajian fish aggregating device (FAD) atau rumpon, untuk menutup kesenjangan data laut dalam Indonesia.
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menegaskan ekspedisi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk membangun kemandirian dalam eksplorasi dan riset kelautan.
“Jika Indonesia ingin memahami dan melindungi lautnya sendiri, maka ekosistem riset—mulai dari kapal, teknologi, hingga sumber daya manusia—harus diperkuat secara berkelanjutan,” ujarnya dikutip Minggu (1/2/2026).
Beroperasi dari kapal riset canggih OceanXplorer, tim peneliti mengidentifikasi 14 spesies megafauna, yang terdiri atas 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu, sebagaimana dilaporkan Andrew Craig, ROV Program Lead OceanX.
Peneliti mamalia laut BRIN, Sekar Mira, menjelaskan sejumlah spesies terdeteksi melalui pemantauan udara menggunakan helikopter kapal, termasuk paus sperma (Physeter macrocephalus) dan beberapa jenis paus berparuh.
“Salah satu temuan paling penting adalah Indopacetus pacificus atau paus paruh Longman. Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi catatan baru bagi biodiversitas perairan Indonesia,” kata Sekar.
Selain pengamatan visual, ekspedisi ini memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA) metabarcoding, metode non-invasif yang memungkinkan ilmuwan mendeteksi keberadaan megafauna hanya dari jejak genetik di air laut, tanpa mengganggu satwa.
“Ini seperti berburu paus tanpa tombak. Kita mempelajari distribusi spesies, tidak hanya secara horizontal, tetapi juga vertikal di kolom perairan,” ujar Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo.
Ekspedisi ini juga didukung dua kapal selam berawak (submersible) dengan peran berbeda. Nadir difokuskan untuk dokumentasi visual beresolusi tinggi, sementara Neptune digunakan untuk pengambilan sampel ilmiah.
Peneliti Indo Ocean Foundation, Ilham, menjelaskan Nadir melakukan video transect untuk merekam struktur komunitas biota di gunung bawah laut Sulawesi Utara—ekosistem penting yang berfungsi sebagai hotspot keanekaragaman hayati, namun masih minim data di Indonesia.
Sementara itu, Neptune dilengkapi Niskin bottle untuk pengambilan sampel air, lengan robotik untuk koleksi biota, serta bio box guna menjaga spesimen tetap utuh hingga dianalisis di laboratorium kapal.
Sebagai Lead Scientist ekspedisi, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Pipit Pitriana menegaskan hasil riset ini memperkaya basis data biodiversitas laut Indonesia timur dan menjadi fondasi ilmiah penting bagi kebijakan konservasi laut berbasis bukti.
Menutup paparan hasil ekspedisi, Wakil Kepala BRIN Amarulla Oktavian mengapresiasi kolaborasi ini sekaligus menekankan pentingnya transfer pengetahuan dan teknologi.
“Seluruh hasil penelitian harus terdokumentasi dengan baik dan disimpan di repositori ilmiah nasional. Ke depan, riset laut dalam akan kita lanjutkan dengan kapal riset Indonesia sendiri, dengan peralatan yang tidak boleh kalah canggih,” tegasnya. (TR Network)































