JAKARTA – Krisis iklim telah menimbulkan dampak buruk terhadap pendidikan 242 juta siswa di 85 negara sepanjang 2024. Dampak tersebut akibat gelombang panas, siklon tropis, badai, banjir, dan kekeringan.
Krisis iklim ini semakin memperburuk krisis pembelajaran yang sudah ada, menurut analisis baru yang dirilis UNICEF, anak – anak rentan terhadap dampak krisis cuaca.
“Anak-anak lebih rentan terhadap dampak krisis cuaca, termasuk gelombang panas yang lebih kuat dan sering, badai, kekeringan, dan banjir,” ujar Catherine Russell selaku Direktur Eksekutif UNICEF, Kamis, 20 Maret 2025.
Laporan ‘Learning Interrupted: Global Snapshot of Climate-Related School Disruptions in 2024‘, mengungkap dampak signifikan perubahan iklim terhadap pendidikan global. Gelombang panas menjadi ancaman utama, menyebabkan penutupan sekolah bagi lebih dari 118 juta siswa pada April 2023.
Di Bangladesh, Filipina, dan Kamboja, sekolah-sekolah terpaksa ditutup atau jam belajar dipersingkat. Suhu ekstrem mencapai 47°C di Asia Selatan pada Mei 2023, meningkatkan risiko sengatan panas bagi anak-anak.
Tubuh anak-anak lebih rentan terhadap cuaca panas, dan mereka kesulitan berkonsentrasi atau bersekolah jika infrastruktur rusak akibat banjir atau badai.
Cuaca ekstrem tahun lalu menyebabkan satu dari tujuh siswa tidak bisa bersekolah, mengancam kesehatan, keselamatan, dan pendidikan jangka panjang mereka.
Beberapa negara menghadapi multi-ancaman iklim, seperti Afghanistan yang mengalami gelombang panas dan banjir bandang pada Mei 2023, merusak lebih dari 110 sekolah.
Di Asia Selatan, 128 juta siswa terdampak gangguan sekolah, sementara di Asia Timur dan Pasifik, 50 juta siswa mengalami hal serupa.
September menjadi bulan dengan gangguan terbanyak, termasuk akibat Topan Yagi yang memengaruhi 16 juta anak. Perubahan iklim juga memperburuk krisis pembelajaran global.
Infrastruktur sekolah rusak, akses pendidikan terhambat, dan kondisi belajar menjadi tidak aman. Anak-anak kehilangan konsentrasi, daya ingat, dan kesehatan mental mereka terganggu.
Di daerah rentan, penutupan sekolah jangka panjang meningkatkan risiko pernikahan anak dan pekerja anak, terutama bagi anak perempuan yang lebih rentan putus sekolah dan mengalami kekerasan berbasis gender.
Secara global, sistem pendidikan sudah gagal memenuhi kebutuhan jutaan anak. Kurangnya guru terlatih, ruang kelas padat, dan ketimpangan kualitas pendidikan diperparah oleh ancaman iklim. Tanpa tindakan cepat, dampak perubahan iklim akan semakin merusak masa depan generasi muda. (TR Network)