JAKARTA – Laju deforestasi masif di kawasan Wallacea menjadi alarm keras bagi masa depan lingkungan Sulawesi Tenggara.
Merespons ancaman tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong Lanskap Sombori–Matarombeo–Tangkelemboke–Mekongga ditetapkan sebagai Taman Nasional sekaligus Warisan Dunia UNESCO.
Usulan ini dinilai mendesak di tengah ekspansi industri ekstraktif, degradasi hutan, dan krisis iklim yang terus menggerus kawasan timur Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Hendra Gunawan, dalam Konferensi Wallacea Expeditions di Kendari, Senin (5/1/2026).
“Ini bukan sekadar status. Pengusulan Taman Nasional dan Warisan Dunia adalah respons ilmiah terhadap deforestasi yang sudah berada di titik mengkhawatirkan,” tegas Hendra.
1,37 Juta Hektare Hutan Hilang
Data BRIN menunjukkan, dalam satu dekade terakhir Wallacea kehilangan sekitar 1,37 juta hektare hutan, dengan Sulawesi Tenggara termasuk wilayah yang paling terdampak.
Deforestasi ini mempercepat banjir, kekeringan, longsor, serta merusak sistem ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.
Salah satu kawasan paling krusial adalah Kompleks Pegunungan Mekongga seluas ±258.519 hektare. Kawasan ini merupakan hulu tiga daerah aliran sungai (DAS) utama dan lebih dari 30 sungai, sehingga degradasi hutan di wilayah ini berdampak langsung pada ketahanan air regional.
Kerusakan tutupan hutan di Mekongga tak hanya mengancam suplai air bersih, tetapi juga membuka risiko konflik sumber daya, penurunan produktivitas pertanian, hingga bencana ekologis berulang.
Habitat Endemik di Ambang Kehancuran
Deforestasi Wallacea juga mengancam habitat satwa endemik Sulawesi yang tak ditemukan di tempat lain di dunia, seperti anoa, babirusa, rangkong Sulawesi, dan tarsius. Hilangnya hutan primer dan fragmentasi lanskap membuat populasi satwa ini kian terdesak ke kantong-kantong habitat tersisa.
Selain itu, kawasan ini menyimpan ekosistem langka—mulai dari hutan sub-montana hingga sub-alpin—yang berperan penting sebagai penyerap karbon alami dan penyangga iklim regional.
Bukti Ilmiah: Hutan yang Belum Terpetakan
Hendra menjelaskan, hasil riset International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) dan rangkaian Wallacea Scientific Expedition Series menemukan indikasi ratusan spesies baru—dari mamalia kecil, flora, serangga, hingga mikroorganisme—yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.
Ironisnya, sebagian kawasan dengan potensi ilmiah tinggi ini berada di wilayah yang kini terancam oleh pembukaan hutan dan aktivitas ekstraktif.
“Kita berisiko kehilangan spesies bahkan sebelum sempat mengenalnya,” ujar Hendra.
Penetapan Kawasan Lindung sebagai Rem Darurat
Dukungan terhadap pengusulan ini datang dari kalangan akademisi hingga pemerintah. Wakil Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. La Ode Santiaji Bande, menilai lanskap Wallacea Sulawesi Tenggara memenuhi kriteria warisan dunia dari sisi biodiversitas, geologi, dan sejarah alam.
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menyerahkan proses penetapan kawasan kepada Kementerian Kehutanan, guna menghentikan laju deforestasi yang semakin sulit dikendalikan.
Dari pemerintah pusat, Staf Khusus Kementerian Kehutanan, Silverius Oscar Unggul, menegaskan bahwa pengelolaan hutan berbasis lanskap—termasuk moratorium aktivitas berisiko tinggi—menjadi opsi kebijakan yang relevan untuk menyelamatkan Wallacea.
Momentum Terakhir Menyelamatkan Wallacea
Direktur Naturevolution International, Evrard Wendenbaum, menambahkan bahwa selama lebih dari satu dekade, kolaborasi ilmiah internasional telah membangun basis data ekologis sebagai landasan perlindungan kawasan.
BRIN menilai penetapan Taman Nasional dan Warisan Dunia bukan sekadar simbol konservasi, melainkan rem darurat untuk menghentikan deforestasi dan memastikan fungsi ekologis Wallacea tetap berjalan.
“Jika deforestasi terus dibiarkan, Wallacea akan kehilangan nilai ekologisnya. Menetapkan kawasan lindung sekarang adalah satu-satunya cara mencegah kerusakan permanen,” pungkas Hendra. (TR Network)






























