JAKARTA — Asia tengah memasuki fase paling menentukan dalam sejarah demografinya. Benua dengan populasi terbesar di dunia ini bukan hanya terus bertambah manusia, tetapi juga bergerak cepat menuju era urbanisasi ekstrem—sebuah perubahan yang mengancam keseimbangan sosial, ekonomi, dan iklim global jika tak dikelola secara serius.
Data terbaru Worldometer 2026 menunjukkan Asia kini menjadi rumah bagi lebih dari separuh populasi dunia, dengan India resmi menyalip China sebagai negara terpadat di bumi, sementara Indonesia bertahan di posisi tiga besar. Di saat bersamaan, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap bahwa hampir setengah umat manusia kini hidup di kota—dan Asia adalah pusat ledakannya.
India Menyalip China, Indonesia Menguat di Tiga Besar
Berdasarkan proyeksi Worldometer 2026, peta populasi Asia menunjukkan pergeseran dramatis:
India: 1,47 miliar jiwa (+0,87%)
China: 1,41 miliar jiwa (−0,22%)
Indonesia: 287,8 juta jiwa (+0,76%)
India tak hanya unggul secara jumlah, tetapi juga masih mencatat pertumbuhan bersih lebih dari 12,7 juta orang per tahun, sementara China justru kehilangan lebih dari 3 juta penduduk akibat penurunan angka kelahiran dan penuaan populasi.
Indonesia, dengan tingkat fertilitas 2,1 dan urbanisasi mencapai 60 persen, kini berada di persimpangan krusial: bonus demografi atau beban struktural baru.
Asia Selatan dan Timur: Mesin Pertumbuhan Populasi Dunia
Negara-negara Asia Selatan dan Timur menjadi lokomotif pertumbuhan penduduk global:
Pakistan: 259 juta jiwa (+1,6%)
Bangladesh: 177 juta jiwa (+1,21%)
Filipina: 117 juta jiwa
Vietnam: 102 juta jiwa
Sebaliknya, Asia Timur menghadapi krisis demografi serius. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China mencatat pertumbuhan negatif, dengan usia median yang kian menua dan angka kelahiran di bawah tingkat penggantian.
Ledakan Kota: Separuh Manusia Kini Hidup di Perkotaan
Tren demografi ini berpadu dengan fenomena yang lebih besar: urbanisasi global.
Menurut laporan World Urbanization Prospects 2025 dari UNDESA, sekitar 45 persen dari 8,2 miliar penduduk dunia kini tinggal di kawasan perkotaan—angka yang akan terus melonjak.
“Urbanisasi adalah kekuatan penentu zaman kita. Jika dikelola secara inklusif, ia bisa menjadi jalan transformasi bagi aksi iklim, pertumbuhan ekonomi, dan keadilan sosial,” ujar Li Junhua, Wakil Sekjen PBB bidang Ekonomi dan Sosial, November 2025.
Jakarta Jadi Kota Terbesar Dunia, Asia Dominasi Megacity
Laporan PBB mencatat lonjakan luar biasa jumlah megacity (kota berpenduduk di atas 10 juta jiwa):
Dari 8 kota (1975) menjadi 33 kota (2025), dimana 19 di antaranya berada di Asia.
Yang paling mencolok: Jakarta kini dinobatkan sebagai kota terbesar di dunia, dengan hampir 42 juta penduduk, melampaui Dhaka dan Tokyo.
Daftar teratas megacity dunia:
Jakarta, Indonesia
Dhaka, Bangladesh
Tokyo, Jepang
Satu-satunya kota non-Asia di 10 besar adalah Kairo, Mesir.
Bukan Megacity, Kota Kecil Justru Tumbuh Paling Cepat
Di balik sorotan megacity, PBB menemukan fakta penting:
– 96% kota di dunia berpenduduk di bawah 1 juta jiwa
– 81% bahkan di bawah 250 ribu jiwa
– Jumlah kota global telah lebih dari dua kali lipat sejak 1975
Hingga 2050, jumlah kota dunia diperkirakan menembus 15.000 kota, terutama didorong oleh Asia dan Afrika. Kota kecil dan menengah inilah yang akan menjadi medan tempur baru pembangunan, konflik ruang, dan krisis ekologis.
Kota Menyusut, Negara Bertambah: Paradoks Asia
Laporan UNDESA juga mencatat tren paradoks:
– Sejumlah kota menyusut meski negaranya tumbuh
– Sebagian kota tumbuh meski populasi nasional menurun
Lebih dari sepertiga kota yang menyusut berada di China, disusul India (17%). Bahkan kota besar seperti Chengdu dan Mexico City mulai kehilangan penduduk.
Desa Menyusut, Kecuali Afrika
Wilayah pedesaan terus menyusut secara global:
Tahun 1975: desa dominan di 116 negara
Saat ini: tinggal 62 negara
Proyeksi 2050: hanya 44 negara
Sub-Sahara Afrika menjadi satu-satunya kawasan yang masih akan mengalami pertumbuhan penduduk desa—sementara Asia bergerak cepat menuju dominasi kota.
Asia di Persimpangan Sejarah
Ledakan populasi dan urbanisasi menjadikan Asia sebagai episentrum masa depan dunia—baik sebagai pusat inovasi, maupun potensi krisis sosial-ekologis.
Bagi Indonesia dan Asia secara luas, pertanyaannya bukan lagi apakah kota akan tumbuh, melainkan apakah negara siap mengelola manusia, ruang, dan lingkungan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Newsroom)
































