JAKARTA — Di tengah kepadatan beton, krisis iklim, dan ancaman banjir yang kian nyata, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mengirim sinyal tegas: ibu kota tak bisa lagi hidup tanpa ruang terbuka hijau dan biru. Dua langkah konkret ditunjukkan sekaligus—penyelesaian Waduk Aseni di Jakarta Barat dan peresmian Taman Roci di Jakarta Utara.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memastikan pembangunan Waduk Aseni di Jalan H. Aseni Raya, Kalideres, Jakarta Barat, akan rampung pada Maret 2026.
Waduk ini digadang-gadang menjadi tambahan strategis ruang terbuka biru Jakarta, sekaligus instrumen penting pengendalian banjir.
“Rampungnya Maret tahun ini. Secara perhitungan, tinggal penyelesaian akhir,” ujar Rano saat meninjau langsung lokasi, Jumat (30/1).
Waduk Aseni dibangun di atas lahan 4,47 hektare, dengan badan air seluas 1,7 hektare dan kedalaman empat meter. Kapasitas tampungnya mencapai 69.600 meter kubik, yang diproyeksikan mampu mereduksi potensi banjir hingga 13,1 persen, terutama dari limpasan Kali Semanan.
Tak hanya soal air, waduk ini dirancang sebagai ruang publik perkotaan. Area kering seluas 2,7 hektare akan dilengkapi balai warga, musala, toilet, area bermain anak, hingga sunken plaza sebagai ruang interaksi sosial.
“Ini akan menjadi tempat yang sangat baik. Warga bisa memanfaatkannya,” tegas Rano, seraya mengingatkan pentingnya menjaga waduk agar manfaatnya berkelanjutan.
Sebagai bagian dari pendekatan ekologis terpadu, kawasan Waduk Aseni juga dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berkapasitas 470 meter kubik per hari, yang dirancang melayani sekitar 2.260 jiwa di sekitar Kalideres.
IPAL ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur air Jakarta tak lagi bisa dilepaskan dari aspek lingkungan dan kesehatan.
Sementara itu, dari Jakarta Utara, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Taman Roci (Rorotan–Cilincing) di Kelurahan Rorotan. Taman ini menjadi simbol perubahan arah kebijakan: tak lagi hanya taman besar dan monumental, tapi juga taman-taman kecil yang menyebar dan dekat dengan warga.
“Kalau dulu yang dibuat besar-besar, sekarang yang kecil pun selama membawa manfaat bagi masyarakat saya izinkan untuk dikembangkan,” kata Pramono.
Taman Roci berdiri di atas lahan 2.700 meter persegi, lengkap dengan kolam retensi, area bermain anak, gazebo, plaza, urban farming, hingga area tematik kelinci sebagai sarana edukasi lingkungan. Sebelumnya, lahan ini hanyalah ruang terbuka yang tak tertata dan minim fungsi sosial.
Pramono menekankan, pembangunan ruang terbuka hijau Jakarta bukan sekadar proyek seremonial, melainkan kebutuhan mendesak kota megapolitan yang semakin rentan terhadap krisis ekologis.
“Yang paling penting, taman ini harus dirawat dan dijaga, jangan sampai hanya menjadi seremoni,” tegasnya.
Pembangunan Taman Roci juga menjadi contoh kolaborasi antara Pemerintah Kota Jakarta Utara, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, serta masyarakat. Kolaborasi ini dipandang sebagai kunci agar penataan lingkungan kota berjalan berkelanjutan, bukan tambal sulam.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Pramono juga menyerahkan bantuan simbolis kepada 100 warga dari enam RW di Kelurahan Rorotan yang terdampak angin kencang—pengingat bahwa krisis iklim bukan isu masa depan, melainkan realitas hari ini.
Dengan rampungnya Waduk Aseni dan bertambahnya taman-taman lingkungan seperti Taman Roci, Pemprov DKI Jakarta mengirim pesan jelas: penyelamatan kota tak bisa hanya lewat beton dan aspal, tetapi lewat air, pohon, dan ruang hidup bagi warga.
Jakarta, yang selama ini dikenal sebagai kota paling padat dan rentan banjir, kini dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apakah penambahan ruang terbuka hijau dan biru ini akan cukup cepat sebelum krisis datang lebih dulu? (TR Network)
































