JAKARTA – Perdagangan karbon Indonesia kian menjadi perhatian global.
Komisi XII DPR RI mulai mengunci arah kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) melalui dialog strategis dengan Uni Eropa, seiring menguatnya posisi Indonesia sebagai aktor penting pasar karbon di kawasan Asia Tenggara.
Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya dengan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, membahas implementasi Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) di Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Bambang menegaskan, pertemuan tersebut menjadi ruang penting untuk menyamakan persepsi, khususnya terkait pandangan Uni Eropa terhadap perdagangan karbon di Indonesia.
Menurutnya, Uni Eropa melihat Indonesia sebagai pemain strategis, bukan hanya karena luasnya sumber daya alam, tetapi juga karena peran sentral Indonesia dalam transisi energi kawasan.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat penting di Asia Tenggara. Kita punya sumber daya besar, baik di sektor energi maupun pertambangan. Karena itu, Uni Eropa menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan,” ujar Bambang usai pertemuan.
Ia menambahkan, dialog Indonesia–Uni Eropa dibangun atas dasar kesetaraan dan saling menghormati. Tidak ada pendekatan yang bersifat menekan, melainkan komunikasi terbuka untuk memperkuat kerja sama jangka panjang di sektor energi dan perdagangan karbon.
Komisi XII DPR RI, lanjut Bambang, membuka ruang investasi dan kerja sama bisnis, sepanjang memenuhi regulasi nasional dan sejalan dengan kepentingan Indonesia.
Sejumlah peluang kerja sama telah dibahas, termasuk yang berkaitan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) serta mekanisme perdagangan karbon yang sedang dikembangkan pemerintah.
“Selama memenuhi ketentuan regulasi dan dimungkinkan, tentu kita buka ruang kerja sama. Ini bagian dari upaya mendorong iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan,” tegas Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut.
Bambang juga mengungkapkan, keterlibatan entitas bisnis Uni Eropa dalam perdagangan karbon di Indonesia sejatinya telah berlangsung sebelumnya.
Karena itu, pertemuan ini diharapkan memperkuat pesan bahwa Indonesia bukan sekadar pasar, melainkan mitra strategis dalam pengembangan ekonomi hijau global.
“Kami berharap dialog ini mendorong semakin banyak entitas bisnis Eropa menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi, tidak hanya di sektor karbon, tetapi juga energi secara luas,” imbuhnya.
Lebih jauh, Bambang menekankan bahwa komunikasi dengan Uni Eropa bukanlah agenda sesaat. Kerja sama telah terjalin secara berkelanjutan, bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai Ketua Komisi XII DPR RI.
“Ini proses panjang. Komisi XII akan terus mengawal agar kerja sama ini benar-benar memberi kontribusi dan manfaat nyata bagi Indonesia, khususnya dalam perdagangan karbon dan sektor energi lainnya,” pungkasnya. (TR Network)






























