RIYADH — Negara-negara Timur Tengah memperkuat langkah kolektif menghadapi krisis iklim melalui Middle East Green Initiative (MGI), sebuah agenda lingkungan regional yang dipimpin Arab Saudi dan menargetkan penanaman 50 miliar pohon di seluruh kawasan.
Inisiatif ini dirancang untuk merespons meningkatnya ancaman perubahan iklim, mulai dari kenaikan suhu ekstrem, badai debu, hingga degradasi lingkungan yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.
Badai debu saja diperkirakan menimbulkan kerugian lebih dari US$13 miliar per tahun di kawasan Timur Tengah.
MGI memosisikan aksi iklim sebagai agenda strategis lintas negara, tidak hanya melalui penghijauan masif, tetapi juga lewat penguatan kerja sama regional, pembangunan infrastruktur rendah emisi, dan penciptaan peluang ekonomi berkelanjutan.
Pohon dipandang berperan penting dalam meningkatkan kualitas udara, mengurangi erosi tanah, serta menyerap karbon dioksida.
Dalam peta jalan jangka panjangnya, Middle East Green Initiative menargetkan pemulihan 200 juta hektare lahan terdegradasi. Dari total target tersebut, 10 miliar pohon akan ditanam di Arab Saudi, sementara 40 miliar pohon lainnya dialokasikan untuk negara-negara kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade ke depan—setara dengan 5 persen dari target penghijauan global.
Komitmen politik terhadap agenda ini kembali ditegaskan dalam Sidang Kedua Dewan Menteri Middle East Green Initiative, yang digelar di Jeddah pada 29 Januari 2026.
Pertemuan ini dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi Abdulrahman Alfadley, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Menteri MGI.
Sidang tersebut dihadiri oleh 31 negara anggota kawasan, dengan Inggris hadir sebagai pengamat, serta melibatkan berbagai organisasi dan lembaga internasional.
Dalam forum ini, Arab Saudi menekankan pentingnya penyatuan upaya global dan regional untuk menghadapi tantangan lingkungan, mempercepat rehabilitasi lahan terdegradasi, memperluas tutupan vegetasi, serta menjamin kualitas hidup berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Dalam sambutan pembukaannya, Alfadley menyambut empat negara anggota baru, yakni Ghana, Sierra Leone, Sri Lanka, dan Suriah, yang secara resmi bergabung dalam Middle East Green Initiative.
“Pertemuan ini merupakan langkah penting dalam memfinalisasi kerja sama antarnegara anggota sekaligus menetapkan Sekretariat Permanen Middle East Green Initiative di Riyadh,” ujar Alfadley.
Ia mengungkapkan bahwa total komitmen penanaman pohon yang dihimpun dalam kerangka MGI kini telah melampaui 22 miliar pohon, seiring meluasnya keanggotaan dan dukungan internasional.
Pada kesempatan tersebut, Alfadley juga mengucapkan selamat kepada Insinyur Ibrahim Alturki atas pengangkatannya sebagai Sekretaris Jenderal Middle East Green Initiative.
Lebih jauh, Alfadley menyoroti transformasi lingkungan menyeluruh yang tengah dijalani Arab Saudi sebagai bagian dari visi nasional menuju pembangunan berkelanjutan.
Transformasi ini didorong oleh penerapan Strategi Lingkungan Nasional, pembentukan pusat-pusat lingkungan khusus, serta peluncuran sejumlah inisiatif unggulan—terutama Saudi Green Initiative (SGI) yang diluncurkan oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz.
Melalui Saudi Green Initiative, Kerajaan menargetkan rehabilitasi 40 juta hektare lahan.
Hingga kini, program tersebut telah mencatat capaian nyata berupa penanaman lebih dari 151 juta pohon serta perluasan kawasan konservasi alam hingga lebih dari 18 persen dari total wilayah daratan Arab Saudi, dengan target mencapai 30 persen pada 2030.
Selain itu, Arab Saudi juga membukukan kemajuan signifikan di berbagai sektor lingkungan, termasuk daur ulang limbah, layanan meteorologi, riset iklim, konservasi satwa liar, serta peningkatan kepatuhan terhadap standar dan regulasi lingkungan.
Dalam sambutan penutupnya pada sidang Dewan Menteri MGI, Alfadley menyampaikan apresiasi kepada seluruh negara anggota atas partisipasi aktif mereka.
Ia berharap keputusan-keputusan yang dihasilkan mampu memperkuat kerja kolektif dalam melindungi lingkungan dan menghadapi krisis iklim secara terkoordinasi.
Sebagai informasi, Middle East Green Initiative pertama kali diluncurkan pada KTT perdana di Riyadh pada Oktober 2021, yang dihadiri pemimpin dari 28 negara.
Pada KTT kedua di Sharm El Sheikh, Mesir, November 2022, Arab Saudi mengumumkan hibah pendanaan untuk mendukung MGI, menegaskan Riyadh sebagai tuan rumah Sekretariat Jenderal, serta menyatakan komitmennya untuk menanggung seluruh biaya operasional inisiatif selama sepuluh tahun ke depan.
Di tengah eskalasi ancaman perubahan iklim global, Middle East Green Initiative kini dipandang sebagai poros kerja sama lingkungan regional, menandai upaya Timur Tengah untuk bergerak melampaui kepentingan nasional dan membangun aliansi hijau dalam menghadapi tantangan iklim abad ke-21. (SPA)































