KOLAKA — Sulawesi Tenggara menapaki babak baru transisi energi. Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Kolaka berkapasitas 25 megawatt (MW) resmi memasuki tahap Commercial Operation Date (COD), menandai penguatan pasokan listrik berbasis energi lebih bersih sekaligus menopang agenda hilirisasi industri hijau di daerah penghasil nikel itu.
Peresmian PLTG Kolaka pada Jumat (30/1/2026) dilakukan langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, dan menjadi tonggak penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan regional di tengah meningkatnya kebutuhan energi untuk industri dan masyarakat.
Menurut General Manager PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat (Sulselrabar), Ediyansyah, selain menjadi tonggak infrastruktur energi, PLTG Kolaka tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi nyata bagi daerah.
“Selama proses pembangunan, proyek ini berhasil mencapai zero accident. Ini mencerminkan komitmen tinggi PLN terhadap keselamatan kerja dan keberlanjutan proyek,” ujar Ediyansyah.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Kolaka, seluruh mitra kerja, kontraktor, serta insan PLN yang berkontribusi dalam menghadirkan pembangkit berbasis gas yang lebih ramah lingkungan dibanding pembangkit konvensional berbahan bakar fosil berat.
Energi Bersih sebagai Fondasi Hilirisasi
Bupati Kolaka, Amri, menyambut baik beroperasinya PLTG Kolaka dan berharap keberadaan pembangkit ini mampu memperluas penyerapan tenaga kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Kami mengapresiasi peresmian PLTG ini. Ke depan, kami berharap PLN terus berkolaborasi dan bersinergi dengan program-program pembangunan daerah,” ungkapnya.
Senada, Wakil Gubernur Sultra Hugua menilai PLTG Kolaka memiliki peran strategis dalam memperkuat fondasi energi bersih untuk menopang agenda hilirisasi industri di Sulawesi Tenggara.
“Hilirisasi tidak akan berjalan tanpa listrik yang cukup dan andal. PLTG ini menjadi bagian penting dari transisi energi dan penguatan ekonomi daerah,” tegas Hugua.
Dari Agroindustri hingga Nikel Hijau
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara saat ini mendorong hilirisasi di berbagai sektor strategis, mulai dari agroindustri berbasis pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan—seperti pengolahan kelapa dan ikan—hingga hilirisasi nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Industri nikel diarahkan tidak lagi berhenti pada bahan mentah, tetapi berkembang ke produk setengah jadi dan turunan, seperti ferronickel, bahan baku baterai kendaraan listrik, dan produk logam lainnya yang mendukung rantai pasok energi bersih global.
Seluruh agenda tersebut membutuhkan pasokan listrik besar, stabil, dan berkelanjutan. Kehadiran PLTG Kolaka 25 MW dinilai menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut, sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Tenggara sebagai kawasan industri berbasis energi yang lebih ramah lingkungan.
Dengan mulai beroperasinya PLTG Kolaka, Sultra tak hanya memperkuat ketahanan energi regional, tetapi juga mempercepat langkah menuju transisi energi, industrialisasi hijau, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Newsroom)































