PURWODADI – Di saat ancaman kepunahan tumbuhan kian nyata dan laju kerusakan lingkungan melampaui kecepatan konservasi, Kebun Raya Purwodadi berdiri sebagai salah satu benteng terakhir penjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Selama 85 tahun perjalanannya, kebun raya ini terus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan flora nusantara dari kepunahan permanen.
Berada di bawah Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kebun Raya Purwodadi memainkan peran strategis dalam konservasi ex-situ tumbuhan, khususnya flora endemik dataran rendah kering yang semakin terdesak oleh alih fungsi lahan dan krisis iklim.
Bersama Kebun Raya Bogor, Cibodas, Cibinong, dan Eka Karya Bali, Kebun Raya Purwodadi menjadi bagian dari lima kebun raya nasional yang dikelola langsung oleh BRIN.
Memasuki usia 85 tahun pada 30 Januari 2026, komitmen kebun raya yang terletak di Desa Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini justru kian menguat di tengah tekanan ekologis yang semakin kompleks.
Dengan luas 85 hektar dan berada pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut, Kebun Raya Purwodadi bukan sekadar ruang hijau, melainkan laboratorium hidup bagi penyelamatan tumbuhan Indonesia.
Kawasan ini pertama kali didirikan pada 30 Januari 1941 atas prakarsa Dr. Dirk Fok van Slooten sebagai pemekaran dari Kebun Raya Bogor, dan dikenal sebagai Hortus Iklim Kering Purwodadi—sebuah pusat koleksi tumbuhan iklim kering yang visioner pada masanya.
Nama besar Dr. Lourens Gerhard Marinus Baas Becking, ahli botani dan mikrobiologi asal Belanda, turut melekat dalam sejarah kebun raya ini.
Ia dikenal dengan hipotesis legendarisnya: “Segala sesuatu ada di mana-mana, tetapi lingkunganlah yang memilih.” Sebuah pernyataan yang kini terasa semakin relevan di tengah krisis iklim global.
PIC Pemrosesan Koleksi Ilmiah DPKI BRIN di Kawasan Konservasi Ilmiah Kebun Raya Purwodadi, Janis Damaiyani, mengungkapkan bahwa hingga saat ini Kebun Raya Purwodadi telah mengonservasi 10.782 spesimen tumbuhan hidup, yang mencakup 1.732 jenis, 878 marga, dan 159 suku.
Yang lebih mengkhawatirkan, 87 jenis di antaranya masuk kategori terancam punah berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List.
“Keberadaan Kebun Raya Purwodadi dan empat kebun raya nasional lainnya di bawah BRIN sangat krusial sebagai ruang terbuka hijau penghasil oksigen, penyerap karbon dioksida, penurun suhu mikro, sekaligus kawasan resapan air bagi lingkungan sekitarnya,” tegas Janis.
Upaya konservasi tumbuhan secara ex-situ di Indonesia juga tercermin dari keberadaan 53 kebun raya yang tersebar di berbagai wilayah dan mewakili ekoregion nusantara.
Data Direktorat Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN mencatat, lima kebun raya dikelola BRIN, 42 kebun raya oleh pemerintah daerah, empat oleh perguruan tinggi, satu oleh BUMN, dan satu oleh pihak swasta.
Di bawah BRIN, Kebun Raya Purwodadi kini berstatus sebagai Kawasan Koleksi Ilmiah, berfungsi sebagai fasilitas riset hayati dan lingkungan yang terbuka bagi peneliti, akademisi, serta pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan riset.
Tak hanya itu, melalui kerja sama dengan mitra eksternal PT Mitra Naturan Raya, kebun raya ini juga mengembangkan layanan edukasi dan wisata alam berbasis konservasi.
“Kebun Raya bukan sekadar sebidang tanah yang ditanami tumbuhan. Di tengah krisis ekologis, Kebun Raya adalah benteng terakhir bagi upaya pelestarian tumbuhan di Indonesia,” pungkas Janis. (TR Network)
































