GENEWA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui World Meteorological Organization (WMO) melontarkan peringatan keras: dunia tengah memasuki fase paling berbahaya dari krisis bencana, ketika bencana alam dan kecelakaan industri saling memicu dan memperparah dampak. Tanpa sistem peringatan dini yang kuat dan lintas negara, jutaan nyawa berada dalam risiko.
Peringatan itu mengemuka dalam United Nations Global Seminar on Early Warning, Pollution Remediation, and Environmental Liability yang digelar pada 29–30 Januari 2026, diprakarsai UNECE dan diselenggarakan bersama WMO serta UNDRR. Fokus utama seminar: bencana berantai (cascading hazards) akibat banjir, kekeringan ekstrem, dan peristiwa iklim majemuk yang meningkatkan risiko kecelakaan industri dan pencemaran lintas batas.
“Kecelakaan industri dan peristiwa Natech menunjukkan betapa cepatnya nyawa manusia, komunitas, dan sumber air bersama dapat terdampak,” tegas Dmitry Mariyasin, Deputi Sekretaris Eksekutif UNECE.
Sejarah Kelam yang Tak Boleh Terulang
Ko Barrett, Deputi Sekretaris Jenderal WMO, mengingatkan dunia pada tragedi besar yang seharusnya menjadi pelajaran final: Siklon Bhola 1970, Tsunami Samudra Hindia 2004, hingga gempa, tsunami, dan bencana nuklir Jepang 2011.
“Ambisi kolektif kita jelas: bencana sebesar itu tidak boleh terjadi lagi hanya karena peringatan tidak ada, terlambat, atau diabaikan,” ujar Barrett.
Menurutnya, kerja sama lintas negara bukan pilihan, melainkan keharusan, karena terbukti menyelamatkan nyawa, melindungi mata pencaharian, dan memperkuat ketahanan global.
WMO Ungkap Kapasitas Kunci Peringatan Dini Global
Dalam forum tersebut, WMO memaparkan kemampuan strategis yang kini menjadi tulang punggung sistem peringatan dini multi-bahaya dunia, antara lain:
– Prediksi pergerakan polutan di atmosfer dan lautan
– Sistem global berbagi data observasi dan pemodelan untuk respons darurat lingkungan
– Pelacakan abu vulkanik dan tumpahan minyak demi keselamatan penerbangan dan pelayaran
– Antisipasi hujan ekstrem beserta dampaknya di lapangan
– Peringatan badai pasir, debu, dan risiko kebakaran hutan
– Prakiraan musiman banjir, kekeringan, gelombang panas, dan dingin untuk sektor vital seperti kesehatan, pertanian, dan energi
Instrumen utama seperti Early Warnings for All Roadmap dan Regional HydroSOS disebut menjadi fondasi penyelarasan kebijakan nasional dan regional.
HydroSOS: Data Air Tanpa Batas Negara
Perwakilan Italia sekaligus Wakil Ketua SERCOM WMO, Angela Chiara Corina, menyoroti HydroSOS, sistem global status dan proyeksi hidrologi WMO. Sistem ini menyediakan data lintas batas yang otoritatif, mulai dari prakiraan banjir jangka pendek hingga proyeksi tekanan air musiman.
Didukung Unified Data Policy WMO, HydroSOS menjamin interoperabilitas, transparansi, dan kepercayaan—membantu pemerintah dan pelaku industri mendeteksi risiko lebih dini, mencegah kecelakaan, dan mengoordinasikan respons.
Alarm Global: Dari Peringatan ke Aksi
Seminar ini juga menampilkan pembaruan Sistem Notifikasi Kecelakaan Industri UNECE serta panduan kesiapsiagaan UNDRR berdasarkan Sendai Framework. Pesan utamanya tegas: peringatan dini tidak cukup jika tidak diikuti aksi cepat dan terkoordinasi.
Kolaborasi UNECE, WMO, dan UNDRR dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan dunia terhadap bencana air, krisis iklim, dan risiko berantai lintas sektor—sebelum keterlambatan kembali memakan korban. (TR Network)































